Rabu, 20 Juni 2012

The Blue Eyes of the Lighthouse (part 2)


        Georgina Ahern.
        Ia terlihat sempurna dimataku. Aku terus melihat kearah depan kelasku. Ia cantik sekali. Rambutnya blonde lurus, senyumnya indah, tubuhnya bagus sekali, dan yang paling membuatku terpesona, ia memiliki dua pasang mata yang sangat indah. Mungkin seperti aku yang mengagumi kedua pasang mata Nicky bahkan sejak pertama bertemu dengannya, Nicky juga mengagumi kedua pasang mata indah Georgina. Aku tersenyum. Walaupun merasa bodoh, aku sangat mengakui mereka pasangan yang serasi.
       Nicky terlihat enjoy mengobrol dengannya. Nicky merangkulnya dan terus mengobrol seakan-akan mereka tinggal didunia yang berbeda. Suara tawa Georgina terlihat merdu. Serasi dengan suara husky Nicky yang kukagumi.
       Aku pulang sekolah bersama Darren. Ternyata sudah rutinitasnya setiap hari membawa mobil ke sekolah. Dan kebetulan rumah kami ternyata hanya terpaut beberapa blok.
       “Michelle?” Darren memecah lamunanku.
       “Yeah?” Sahutku
       “Kau nggak suka dengan sekolahmu sekarang ya? Kau kelihatan murung” tanyanya.
       “No...” aku malas menjawab. Aku bukannya tidak suka sekolahnya. Tapi aku benci dihari pertamaku sekolah, aku justru jatuh cinta pada cowok sempurna yang punya pacar sempurna.
       Rasanya aku ingin kembali ke Mullingar. Ke sekolahku yang lama. Dikenal sebagai cewek paling berantakan, tanpa cowok yang bisa disukai. Cowok-cowok itu justru terus mengejekku. Tapi aku tidak keberatan, karena apa yang mereka bicarakan tidak salah. Dengan rambut tidak pernah disisir dan blazer yang tidak pernah dikancingkan aku tetap merasa bahagia.
       Aku baru sekali merasa sangat minder. Aku ingin bertemu Kyla. Sahabatku di Mullingar. Aku benar-benar ingin cerita padanya. Aku ingin menceritakan betapa anehnya hidupku saat berpisah dengannya.
       Ketika aku dan Darren sampai didepan rumahku, aku mengucapkan terima kasih padanya. “Thanks Darren, you’re so kind” aku tersenyum,
       “Kita berangkat sekolah bareng yuk setiap hari. Aku malas berangkat sendirian terus” ajak Darren excited.
       “Really? Thank you so much, girl!” ujarku.
       “Yeah,I’ll pick you up tomorrow. See ya Michelle!” Darren melambaikan tangan. Aku menyambut lambaian tangannya.
        Aku masuk kedalam rumah dan mengunci diriku didalam kamar. Aku mengambil ponselku dan menelepon Kyla. Aku menunggu Kyla mengangkat telepon. Nada sambung terdengar. Sekali, dua kali, tiga kali, sampai akhirnya Kyla benar-benar tidak mengangkat teleponnya.  Aku menyerah, lalu meninggalkan pesan.
       “Kyla...” suaraku terdengar berat. “Are you busy? Sorry for disturbing you. But i need you. Call me back maybe?”
       Aku meletakkan ponselku diatas meja dan aku berbaring diatas kasurku. Aku baru sadar Kyla tidak membalas smsku sejak aku pindah. Apa yang terjadi? Apa ia sudah melupakanku? Secepat ini?
       Pikiranku kembali pada Nicky. Aku terduduk dan melihat cermin. Aku sadar rambutku benar-benar berantakan. Aku mengambil sisir dari laci meja riasku. Aku hampir tidak pernah menyentuhnya. Lalu aku mulai menyisir rambutku.
       “AAAAAAAAAAHHH!!” jeritku kesakitan. Aku melihat kearah sisirku dan oh...rambutku rontok banyak sekali. Aku menyisir sambil menahan sakit. Dan aku mulai menemukan rambut asliku. Lama-kelamaan rambutku tidak kusut lagi. Aku menyadari, ternyata rambutku benar-benar halus dan jatuh jika disisir. Aku tertawa aneh. Manusia macam apa sih aku ini?
       Tapi tetap saja aku tidak bisa secantik yang kuharapkan. Mataku tidak seindah mata Georgina. Kulitku tidak semulus dia, dan aku mulai gendutan karena kebanyakan makan. Aku membuka pintu balkon dan duduk disana. Menikmati angin sore Baldoyle. Memikirkan segalanya. Apapun yang bisa kupikirkan. Angin berhembus dingin membuatku ngantuk. Aku memejamkan mataku.
       “Hooooooi!!”
       Aku membuka mataku. Mendengar suara seruan dari bawah. Aku sadar aku tertidur di balkon sampai matahari hampir terbenam. Aku melihat kebawah, dan terlihat Nicky sedang berdiri dijalanan depan rumahku.
       “Ngapain kau tidur disana?” Nicky tertawa.
       Aku kaget setangah mati.
       “Ngapain kau disini?!” ujarku malu. “Lagipula aku mau tidur dimanapun terserah aku!”
       “Kau ini bodoh ya?” Nicky mengangkat alis. “Rumahku kan hanya beberapa meter dari sini. Lalu tiba-tiba di perjalanan pulang aku melihat cewek aneh sedang tidur di balkon dengan mulut terbuka”
       Wajahku merah padam.
       “Shut up!” jeritku. “Kenapa kau sibuk mengomentariku sih?!kau kan punya pacar. Urus saja pacarmu!”
       “Darimana kau tahu aku punya pacar?” Nicky mengerutkan dahinya.
       “Lain kali kalau kau nggak mau orang tahu, jangan pacaran didepan kelas” kataku ketus.
       Nicky tertawa lagi.
       “Aku kan tidak mungkin menertawai Gina. Ia cewek yang sempurna, jadi aku senang kau datang. Ada yang bisa diejek-ejek.” Cengirnya.
       Cukup, aku benar-benar kesal.
       “Oh!begitu. aku cukup tahu saja. Pergi kau! Aku nggak mau melihat wajahmu lagi!!” aku masuk kedalam rumah. Membanting pintu balkon kencang-kencang. Detik itu juga aku rasa aku membencinya. Sangat sangat benci. Aku tidak mau melihat wajahnya lagi. Sudah nggak ada jatuh cinta dalam kamus Michelle Myron. Dia musuh!
       Keesokan paginya, cukup bagus. Aku tidak bangun kesiangan. Aku masuk ke mobil Darren dengan wajah suram. Aku tidak menyisir rambutku lagi. Bahkan aku tidak memakai blazer. Blazerku kupegang ditanganku.
       “Hey, what’s wrong?” Darren menatapku aneh.
       Aku menggeleng.
       “Hey, mungkin disini nggak sebaik di Mullingar. Tapi tersenyumlah...” Darren menyetir tenang.     
       Aku tersenyum maksa.
       “Thanks...aku merasa moodku kurang bagus” kataku.
       Tiba-tiba Darren mengerem. Ia menatapku., kemudian mengambil sisir dari tasnya.
       “Kau diam saja” katanya. ia mulai menyisir rambutku.
       “Hey! What are you doing?!” ujarku.
       “Kubilang kan diam!” Darren terus menyisiri rambutku. Lalu ia mengambil bedak dan mengoleskannya ke wajahku.
       “Darren!”
       “Ssssssshhhh!!”
       Darren memberiku lip balm. Dan aku pasrah.
       Ia tersenyum padaku.
       “Kalau kau nggak berantakan, kau kelihatan cantik” ia menepuk pipiku pelan. “Pakai blazermu”
       Aku bengong seperti orang bodoh. Darren menyetir mobilnya lagi. Ketika sampai disekolah, aku memakai blazerku.
       “Kancingkan!” ujar Darren.
       Darren semakin lama semakin mirip Mum...
       Aku mengancingkan blazerku.
       “Kalau begini kan aku jadi nggak malu jalan bersamamu” Darren menepuk punggungku. “Let’s go to class!”
       Dan mulai hari itu, aku benar-benar sadar aku bertemu Nicky untuk menjadi musuhnya. Aku suka pelajaran musik. Dan aku suka bernyanyi. Aku merasa enjoy saat bernyanyi sampai kudengar suara Nicky bernyanyi. Nilai pelajaran musiknya pasti lebih bagus dariku. Bukan itu saja. Dalam pelajaran bahasa prancis ia selalu mengalahkan nilaiku. Jika aku mendapat nilai B, ia akan mendapat nilai B+, jika aku mendapat nilai A, ia akan mendapat nilai A+, jika aku mendapat nilai A+, ia akan dapat poin tambahan dari guru bahasa prancis karena pronounciationnya yang bagus. Benar-benar sialan.
       Kami sama-sama benci pelajaran matematika. Tapi tetap saja. Ketika aku mendapat nilai D, ia akan mendapat nilai C+ dan ia masih menggerutu melihat nilainya yang jelas lebih tinggi dariku. Aku benar-benar ingin membunuhnya.
       Aku bodoh sekali dalam berolahraga. Jika berlari, aku nggak lebih cepat dari siput. Aku tidak bisa memegang pemukul softball dengan benar, aku akan berlari ngeri jika bola volley melayang kearahku. Dan ketika kulihat Nicky, larinya benar-benar cepat, ia selalu bisa mencetak gol dalam sepak bola. Dan ia memang keeper terbaik. Ia tidak akan membiarkan bola musuh masuk kedalam gawangnya. Sekalipun tidak.
        Dia lebih segala-galanya dariku. Dan itu membuatku kesal. Parahnya lagi, setiap ia merasa menang, ia akan tersenyum padaku. Senyum itu...senyum paling menyebalkan yang pernah kulihat! Hari-hari di Plunkit  high school seperti neraka jika ada seorang Nicky Byrne! Belum lagi setiap pulang sekolah ia akan bergandeng tangan dengan Georgina seakan-akan mereka tinggal di planet lain, bukan di bumi. Bahkan aku yakin mereka nggak akan peduli walaupun ada pesawat jatuh tiba-tiba didepan mereka.
       “HIIIIIIIIIIHHHHH!!!” aku menjambaki rambutku kesal didalam mobil Darren.
       “What’s going on?!” Darren kaget.
       “Aku benar-benar benci pada Nicky!!dia benar-benar keparat! Kalau kau mau membantuku membunuhnya, aku janji kau akan masuk surga!”
       Darren tertawa geli.
       “It’s impossible for me to kill that perfect guy” katanya.
       “Kau jangan membuatku makin kesal!” ujarku.
       “Hey, Michelle...menurutmu Edward itu bagaimana sih?” Darren senyum-senyum.
       Lagi-lagi Darren membicarakan cowok kelas sebelah yang disukainya. Aku mendesah malas.
       “Kenapa mendesah begitu sih?!aku kan Cuma minta pendapatmu” darren kelihatan kesal.
       “Dia tampan, baik, dan aku yakin ia juga tertarik padamu, Darren. Kau cantik dan kaya. Siapa yang nggak suka padamu?” kataku santai.
       Darren tertawa-tawa sinting.
       “Dia mengajakku nge-date sabtu ini...” Darren tersenyum senang.
       “Yeah, baguslah...” kataku cuek.
      “Cuma segitu tanggapanmu?!” Darren memukul setir.
       “Congratulation my darling Darren Williams! Congratulation!” ujarku.
       Darren menonjok lenganku.
       Aku bukannya tidak senang teman dekatku bahagia. Tapi aku punya firasat buruk. Firasat buruk bahwa Darren akan jauh dariku. Dan terbukti firasatku benar.

***

       Enam bulan berlalu. Dan sudah dua bulan aku tidak naik mobil Darren lagi. Seperti yang ia harapkan, ia jadian dengan Edward dan sekarang ia memilih meninggalkan mobilnya dirumah. Ia akan berangkat dan pulang bersama Edward. Aku mengayuh sepedaku dengan hati kosong. Aku kangen Darren. Aku kangen bercanda dengannya didalam mobil.
       Tapi aku lebih merindukan Kyla. Dia benar-benar sudah melupakanku. Padahal dulu di Mullingar kami dekat sudah seperti kakak dan adik. Apakah manusia harus berubah begini? Apakah didunia ini hanya aku yang tidak berubah? Aku meletakkan sepedaku di garasi dan naik ke lantai atas. Aku merebahkan diri diatas kasurku.
       Sudah puluhan pesan suara kukirim pada Kyla. Dan tidak ada satupun jawaban. Aku meraih handphoneku dengan hati sakit. Ada SMS masuk. Aku hampir melompat ketika melihat display handphoneku.
       SMS dari Kyla.

The Blue Eyes of the Lighthouse (part 1)


       “Michelle!!”
       Aku mendesah mendengar seruan itu. Aku terus berbaring malas di tempat tidurku. Aku bahkan tetap memejamkan mataku. Menarik selimutku sampai menutupi kepalaku.
       “Get out of your room and go downstairs!NOW!” suara itu terdengar lagi.
       “Mum! It’s Sunday!” ujarku kesal sambil menyingkap selimutku. Tapi akhirnya aku turun dari tempat tidurku. Hawa dingin langsung menyerangku. Aku membuka pintu kamarku dan menuruni tangga rumahku yang terbuat dari kayu mahoni. Sebagian besar rumahku memang terbuat dari kayu dan aku menyukainya. Aku lebih suka rumahku yang sekarang, untung saja keluargaku pindah ke Baldoyle.
        “Kau benar-benar anak malas. Besok kau sudah mulai sekolah di Plunkit high school. Sekali lagi kuingatkan kau, Michelle Meckenzie Myron.” Omel Mum.
         Aku memutar bolamataku, duduk didepan meja makan. Aku sama sekali tidak menganggap itu istimewa. Pindah sekolah kan biasa saja. Aku kan sudah dua kali pindah sekolah. Aku pasti dapat teman. Aku pasti tetap nomor satu dalam pelajaran bahasa. Walaupun akan tetap paling rendah dalam pelajaran matematika.
        “You’ll turn to seventeen this year” Mum menaruh sepotong roti dihadapanku. “Perbaiki citramu disekolah. Sisir rambutmu sebelum berangkat sekolah, jangan salah bawa buku, kancingkan blazermu...kalau terus seperti ini, nggak akan ada cowok yang suka padamu.”
        Sekali lagi, aku memutar bolamataku.
        “Mum, I don’t wanna have a relationship.” Gerutuku. “Pasti merepotkan”
        “Akan kupegang kata-katamu sampai kau jatuh cinta nanti” Mum berkata yakin.
        “Whatever...” desahku. Memakan roti dihadapanku.
        Aku memandang ke sekelilingku. Rumah baru, sekolah baru, hidup baru...namaku Michelle Myron. Aku memiliki darah asli Irish. Sebelum tinggal di Baldoyle, Dublin, aku tinggal di Mullingar dan aku juga sempat tinggal di Sligo. Aku memiliki rambut light brown yang selalu terlihat berantakan. Karena aku benci menyisir rambut, entah kenapa. Bolamataku hazel dan aku tidak terlalu tinggi dalam ukuran gadis berumur 16 tahun. Aku tidak pernah menganggap diriku cantik.
       “Mum, aku mau pergi keliling naik sepeda” kataku.
       “Okay..but you have to prepare for tomorrow before you go” Mum menatapku.
       “I’ve prepared anything.” Kataku. Bangkit dari dudukku, mengganti bajuku dengan T-shirt disertai jaket dan celana pendek. dan menuju garasi rumahku. Kemudian menuntun sepedaku yang berwarna ungu cerah.
        Aku mengayuh sepedaku dan melihat ke sekeliling. Rumah-rumah disini kebanyakan memang sederhana tapi nyaman. Pohon-pohon rindang menghiasi jalanan. Aku melewati beberapa kedai teh dan taman-taman. Aku membelokkan sepedaku di sebuah tikungan, dan saat itulah bencana terjadi.
       “BRAKK!!”
       Aku menabrak seseorang yang juga sedang mengendarai sepeda. Aku jatuh dari sepedaku dan jatuh lumayan keras keatas aspal. Orang yang kutabrak juga jatuh dari sepedanya. Aku menjerit dan meringis kesakitan. Tak lama kemudian kulihat sebuah tangan mengulur kearahku.
       “I’m really sorry...” seorang cowok berdiri didepanku. “Are you okay?”
       Dengan ragu aku meraih tangan cowok itu dan bangkit.
       “Yeah, I’m okay...” kedua lututku luka. tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Lengan cowok tadi juga tergores. Kutatap sosoknya, cowok itu berambut pirang dan berbolamata biru. Ia memandangiku dan meminta maaf sekali lagi. Aku mengangguk.
       “Biar kuobati lukamu...” katanya.
       “Nggak usah. Aku pulang saja” Aku menolak.
       “But...”
       “ Berisik amat sih, kubilang kan nggak usah!” ujarku jengkel. Mengambil sepedaku.
        “Okay, alright...siapa namamu?kau baru ya disini?” tanyanya.
        Aku tidak menjawab dan langsung menaiki sepedaku. Malas berurusan dengan orang asing. Aku meninggalkannya begitu saja. Ia pasti kesal, aku tahu. Tapi ia diam saja. Lagipula buat apa aku berbaik hati pada orang yang sudah membuat lututku luka-luka? Aku mendesah panjang. Tapi ada satu yang terus menempel di kepalaku.
        Mata cowok itu. Entah mengapa aku terus memikirkannya sepanjang perjalanan.

***  
        
        Pagi ini tidak sebagus yang kupikirkan.
        Aku terlambat bangun dan ini sama sekali tidak bagus. Mum marah besar. Aku tidak mau mendengar omelannya. Aku cepat-cepat keluar rumah dan naik ke mobil dad. Mobil melaju kencang. Waktu yang tersisa untukku hanya sekitar lima menit. Seperti biasa, aku tidak menyisir rambutku dan tidak mengancingkan blazerku. Mau bagaimana lagi? Aku sudah terlalu telat untuk hal tidak penting begitu.
        Mobil dad berhenti didepan Plunkit high school. Sepertinya bel masuk nyaris berbunyi. Sekolahnya lumayan juga. Bangunannya cukup besar dan cukup banyak pohon yang tumbuh disini. Terdapat logo sekolah dan tulisan besar-besar diatas bangunan “PLUNKIT HIGH SCHOOL” aku mencari-cari kelas 2-C,kelas yang akan kutempati. Tiba-tiba bel berbunyi dan aku merasa tolol karena belum juga menemukan kelasku. Aku menyusuri tangga dan koridor dan akhirnya aku menemukan tulisan “2-C” disamping sebuah pintu. Aku berdiri didepan pintu.
        “Ah, itu dia. Kurasa itu teman baru kalian. Masuklah Ms. Myron...” seorang guru wanita tersenyum kearahku. Rambutnya sangat pendek dan ia memakai kacamata frame tebal “I’m Rose Finnegan, your teacher. And this is Michelle Myron guys...she’s from Mullingar”
        Aku tersenyum seadanya. Mrs. Finnegan menyuruhku duduk di bangku kosong yang kusuka setelah mengkritik cara berpakaianku. Aku duduk di bangku yang posisinya agak dibelakang. Dan saat aku menoleh kearah kanan, aku terbelalak. Benar-benar kaget.
        Disebelahku duduk cowok blonde yang kutabrak kemarin. Ia memandangku dengan tatapan familiar. Ia tersenyum kecil kearahku. Matanya, mata itu...mata yang bahkan sempat kumimpikan tadi malam, entah kenapa. Aku memalingkan wajahku. Merasa tidak enak. Kemarin aku meninggalkannya begitu saja. Tapi ia sedikitpun tidak terlihat kesal padaku. Aku pura-pura tidak mengenalnya.
        “Tuh kan...kau anak baru disini” katanya tiba-tiba. “I’m Nicky Byrne. So sorry for yesterday, Michelle”
        Aku menatapnya. Ia bahkan langsung memanggil nama depanku.
        “Nggak usah dipikirkan” kataku cuek. “Ngapain kau sok akrab banget?”
        Nicky tertawa.
        “Soalnya aku suka namamu. Lagipula nggak enak memanggil nama marga” katanya.
        Aku mengangkat bahu.
        “Terserah...” gumamku. Aku berdebar-debar. Aduh...apa yang terjadi padaku? Dada dan wajahku terasa panas. Suara Nicky benar-benar enak didengar. Suara husky lembut yang tidak banyak dimiliki cowok lain. Walaupun aku memaksa diriku untuk tidak peduli, tetap saja telingaku ingin mendengar suara itu lagi.
        Kurasa Mum sudah mengutukku! Aku benar-benar jatuh cinta sekarang. Terlalu konyol. Ini bahkan terlau cepat untuk disebut jatuh cinta. Tidak...aku hanya suka wajah dan suaranya. Ini terlalu konyol untuh disebut cinta. Tapi entah apa yang terjadi padaku, tanganku spontan bergerak mengancingkan blazerku. Walaupun rambut ajaibku tetap saja tidak disisir. Pagi itu, aku sama sekali tidak bisa menyerap pelajaran yang diberikan.
       “Hey, Michelle...I’m Darren Williams” seorang cewek menghampiriku saat jam istirahat. Aku menatapnya, rambutnya ikal kemerahan,bolamatanya hijau dan tubuhnya sangat ideal. Ia terlihat ramah. Aku tersenyum padanya.
       “Hi...” sahutku. “Nice to meet you”
       Darren duduk disebelahku.
       “Kau kelihatan akrab dengan Nicky. Kalian saling kenal?” tanyanya.
       “No...i just met him yesterday.accidentally” jawabku seadanya.
       “Dia populer disini. Dia selalu mau diminta jadi pengurus kelas, organisasi sekolah, dia juga punya wajah yang manis dan jago nyanyi. Kau beruntung disapa olehnya.” Darren tersenyum. “Dia juga keeper andalan team sepak bola sekolah”
         Aku menciut mendengarnya. Aku benar-benar bodoh. Buat apa aku tertarik dengan cowok populer sedangkan aku tidak lebih dari sekedar sampah disekolah ini?aku hanya mengangguk menanggapinya.
        “Georgina sangat beruntung...” kata Darren tiba-tiba.
        “Georgina?who’s she?” tanyaku.
        “Georgina Ahern...she’s Nicky’s girlfriend. She’s so lucky to have him”
        Aku mendengar petir dari dalam kepalaku. Aku benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak. Oke, aku baru saja tertarik pada cowok sempurna yang SUDAH PUNYA PACAR. Michelle Meckenzie Myron...apa yang terjadi padamu? Saat itu juga aku melupakan mata dan suara Nicky yang kukagumi. Aku tidak lebih dari seorang idiot.
        Tiba-tiba aku mendengar suara Nicky memanggil seseorang diluar kelas.
        “Gina!” serunya.
        Aku menoleh, kemudian melihat gadis yang benar-benar cantik berdiri didepan kelasku.

        ***
     

Selasa, 19 Juni 2012

Kiano Kiano KIANO!

Aku hampir lupa nulis postingan penting kayak gini. pemirsa, hari sabtu tanggal 16 juni 2012 KIAN BALES TWEET SAYA. TEPUK TANGANNYA MANA!

jadi, hari itu super nyebelin. seonggok manusia yang harus aku akuin sebagai adek, MATAHIN DVD WESTLIFE AKU YANG WHERE WE ARE TOUR.fix nangis sepanjang perjalanan ke bandung. nangis di mobil diliatin bokap. bodo amat kesel sekesel-keselnya. mau lempar tu manusia ke neraka sumpah. malah aku nulis kata-kata kasar di twitter. kak seto, tolong jangan stalk akun twitter saya...please...

sore-sorenya di hotel, aku online twitter dan kian tiba-tiba online. ah bodo amat mau jungkir balik shuffle diatas genteng juga ga bakal tweetku dibales kian. perlu diketahui kian ini super ngeselin. dia jarang banget online. padahal nicky sama mark cerewet gitu. shane masih buka twitter ya setidaknya walaupun cuma ngomong thank you, good morning dan sebagainya. kian bagai tinggal di palung...tiba-tiba aku liat kian bales tweet fans indonesia. darah mulai ga ngalir. fans itu mention foto ke kian dan kian ngasih comment. oke...emang ga mungkin seberuntung itu sih ya...tapi bodo amat. aku mention kian terus nyari-nyari foto paling pas buat di mention ke dia. dan aku nemu foto yang udah lama aku punya. foto westlife pas masih berlima. mark, shane, brian sama kian lagi megangin kepala nicky yang botak.

lucu lah lumayan bodo amat.

kumention lah foto itu.

beberapa menit kemudian ada mention masuk, dan tulisan @KianEganWL muncul dengan indahnya di mentionku.

"Nicky not looking his best here!!! Ha ha RT : miss this moment?:') xxx "

demi Allah tangan gemeteran banget. handphone kayak mau lepas dari tangan. astaga dapet mentionnya kian itu susah banget!dan aku dapet! deg-degaaaaan. aku bales mention kian dengan penuh cinta.banyak westlifers yang mention aku abis itu.pucing tapi ceneeengggg.

thanks Kiano, I love you! <3

Funny!


One Direction :) <3

The House In My Heart

I'm never gonna say goodbye.'cause I never wanna see you cry.I swore to you my love would remain.And I swear it all over again and I...I'm never gonna treat you bad.'Cause I never wanna see you sad.I swore to share your joy and your pain.And I swear it all over again...

Aku membuka mataku.seakan ada bunyi lonceng yang membawaku pada masa lalu.ingin rasanya kupecahkan kantung sesak didalam dadaku.aku akan mengingat mereka jika otakku mulai memutar kenangan masa lalu.suara itu,bagaikan persembahan dari surga.aku masih ingat bagaimana mataku melihat wajah-wajah itu.aku adalah sebuah serpihan yang masih tak mengerti arti hidup,bocah kecil yang tak mengenal beban.pertama aku melihat mereka aku tak pernah berpikir mereka akan Menjadi hal yang begitu berharga dalam sejarah hidupku.tiba-tiba saja dihatiku,tersedia sebuah rumah tempat mereka singgah disana tanpa bisa keluar lagi.aku tak sempat bertanya pada Tuhan "mengapa Kau sediakan rumah itu?" Aku tahu kata "cinta" mungkin ketika mereka mengetuk pintu rumah itu dan masuk kedalamnya.sesekali mereka menghias rumah itu,menumbuhkan senyum dibibirku.telah banyak badai yang melanda hatiku.tapi mereka tetap singgah disana.tak berusaha menyelamatkan diri dari badai yang mengamuk itu,dan dengan sesuatu yang disebut keajaiban,mereka menghentikan badai demi badai yang datang.ketika aku kecil,aku sering mendengar suara-suara indah yang entah darimana asalnya.nama mereka tersembunyi dalam suara-suara indah itu.tapi sekarang aku tahu,sebuah nama yang menumbuhkan bunga dalam kebun hatiku,mereka adalah Westlife.

Hanya tuhan yang tahu bagaimana perasaanku terhadap penghuni tetap hatiku itu.manusia tak akan pernah bisa mengungkapkannya.bahasa diseluruh dunia tidak akan mampu menggambarkannya.hanya Tuhan yang menorehkan cinta ini,mengetahui setiap sudutnya,kemudian membuatnya abadi.banyak kata-kata manusia yang menyakitiku ketika mereka menjelek-jelekkan penghuni abadi itu.tak ada pagar penghalang bagiku untuk berteriak jika telingaku mulai memanas karenanya.penghuni rumah itu adalah hidupku.mereka harus tahu itu.

Dunia memang bisa dilihat secara luas.ada banyak hal yang perlu dilihat dan dicintai.ada banyak hal yang tak bosan-bosan mengetuk pintu rumah dihatiku.tapi pintu itu terkunci rapat.tak seperti mereka...yang masuk kedalamnya dengan sangat mudah.semudah membalikkan telapak tangan.dunia ini adalah sesuatu yang berputar.namun entah mengapa walau duniaku berputar,tetapi tetap saja terhenti pada wajah dan suara mereka.

Mereka adalah fatamorgana.sering kali tiba-tiba saja wajah mereka muncul didepan mataku.tersenyum,menyapa,tertawa...namun ketika aku tersadar,tak ada siapa-siapa disana.melihat bayangan semu seperti itu saja,aku mampu tersenyum dan menghapus jejak-jejak airmataku.sering kali pula,ketika aku menutup mataku,pergi ke dunia mimpi,aku melihat mereka hadir sisiku,melantunkan lagu-lagu untukku,duduk disisi tempat tidurku untuk sekedar melihatku sebelum malam berganti pagi.tapi ketika aku terbangun,aku tak bisa melihatnya lagi.sebenarnya dari dulu aku telah menyadari kami berada dalam dimensi yang berbeda.aku begitu jauh dari tempat dimana mereka sesungguhnya berada.aku sering mengharapkan hal-hal bodoh.berbicara sendiri seperti orang tolol.seakan mereka akan mendengarku lalu membalas ucapanku.aku ingin sekali menghancurkan tembok pemisah antara kami,tapi aku tak pernah mampu.

Sampai hari itu,hari dimana aku merobohkan tembok kokoh itu.aku melihat mereka dalam dimensi yang sama.diantara sinar-sinar yang terlihat tak nyata.mereka ada disana.bernyanyi didepanku,melihatku,melambaikan tangan padaku,berbicara didepanku.kami menghirup udara yang sama saat itu.walau aku hanya sebuah serpihan diantara begitu banyak serpihan...namun rasanya secepat petir yang menyambar.mereka kembali pada dunia yang tak dapat kugapai.namun aku bahagia.aku sangat bahagia.

Suatu saat didunia hatiku yang tenang dengan sebuah rumah yang mereka huni sejak lama,tiba-tiba ada tangan-tangan tak dikenal membangun rumah-rumah baru disisi rumah tempat singgah mereka.aku sempat bertanya,untuk apa rumah-rumah kosong itu?namun tiba-tiba saja,pintu yang telah lama tertutup itu terbuka.mereka keluar satu persatu dari rumah itu,hanya seorang yang tersisa.ia menutup kembali pintu itu.aku melihat mereka mulai berpencar,masuk ke pintu-pintu rumah yang berbeda.rumah-rumah yang baru dibangun itupun kini tak kosong lagi.aku mengerti,terjadi sentakan hebat didadaku.mereka akan berjalan sendiri-sendiri.tinggal dalam rumah-rumah yang berbeda.namun tetap singgah dihatiku.tiba-tiba saja,airmata itu meleleh menuruni pipiku...

Come in can you hear me?I'm saying I'm sorry...there's so much that I want you to know...I'm counting on someday you wake up and see me til...then will let it go...I'm over,and out...

Mereka membisikkan suara itu padaku.menyusup lewat kedua telingaku.masuk kedalam hatiku.aku mengusap airmataku dan tersenyum.

Apapun yang terjadi,kalian akan selalu singgah dalam rumah-rumah dihatiku...

Westlife,I love you

Senin, 18 Juni 2012

Cotard’s Syndrome

If you've ever felt dead tired, and/or you've said something like "God, I just wish I was dead!", this may be just the disorder for you.
Cotard's Syndrome is appropriately nicknamed "Walking Corpse Syndrome" because someone afflicted with it really seriously and truly believes that they are dead, they do not exist, or they've had all their blood or organs removed. Ya know, cause that just happens to all of us every day.
Cotard's is thought to be related to Capgras's Syndrome (a disorder in which the sufferer holds the honest belief that someone in their life has been replaced with an imposter or a duplicate of some sort) neurologically speaking, because both seem to signify a disconnect between the area of the brain that recognizes faces, and the area of the brain that is able to associate emotions with that very recognition (wow, men should really consider using this more often as an excuse for not recognizing a past One Night Stand). Because of this, someone suffering from Cotard's may not even recognize themselves when they look in the mirror and will begin to distance themselves emotionally, convincing themselves that they don't exist, or that they have died.
The syndrome is named after Jules Cotard (1840–1889), a French neurologist who first described the condition, which he called le délire de négation ("negation delirium"), in a lecture in Paris in 1880.He described the syndrome as having degrees of severity that range from mild to severe. Despair and self-loathing characterize a mild state. Severe state is characterized by intense delusions and chronic depression.
In this lecture, Cotard described a patient with the pseudonym of Mademoiselle X, who denied the existence of God, the Devil, several parts of her body, and her need to eat. Later she believed she was eternally damned and could no longer die a natural death. She later died of starvation.
Signs and symptoms
The central symptom in Cotard's syndrome is the delusion of negation. Those who suffer from this illness often deny that they exist or that a certain portion of their body exists. Cotard's syndrome has been found to have three distinct stages. In the first stage - Germination - patients exhibit psychotic depression and hypochondriacal symptoms. The second stage - Blooming - is characterized by the full blown development of the syndrome and the delusions of negation. The third stage - Chronic - is characterized by severe delusions and chronic depression.
People with the Cotard Delusion often become withdrawn from others and they tend to neglect their own hygiene and well-being. The delusion makes it impossible for patients to make sense of reality, which results in an extremely distorted view of the world. This delusion is often found in psychotic patients suffering from schizophrenia. While Cotard's Syndrome doesn't necessitate hallucinations, the strong delusions are comparable to those found in schizophrenic patients.
Distorted Reality
Young and Leafhead describe a modern-day case of Cotard delusion in a patient who suffered brain injury after a motorcycle accident:
The patient's symptoms occurred in the context of more general feelings of unreality and being dead. In January 1990, after his discharge from hospital in Edinburgh, his mother took him to South Africa. He was convinced that he had been taken to hell (which was confirmed by the heat), and that he had died of septicaemia (which had been a risk early in his recovery), or perhaps from AIDS (he had read a story in The Scotsman about someone with AIDS who died from septicaemia), or from an overdose of a yellow fever injection. He thought he had "borrowed my mother's spirit to show me round hell", and that she was asleep in Scotland.
An example of the distorted reality that results from Cotard Syndrome was described in a study of a 14-year-old patient with epilepsy. The child psychiatry OPD he was brought to described his history of expressing themes of death, being sad all the time, decreased play activity, social withdrawal, and disturbed biological function. He would have episodes about twice a year that lasted three weeks to three months at a time. In each episode, the child would say that everyone is dead, including trees. He would also describe himself as being a dead body. He warned that the world would be destroyed within a few hours. He showed no reaction to pleasurable stimuli and showed no interest in any activities.
Treatment
There are several reports of successful pharmacological treatment. Monotherapeutic and combination strategies are both reported.Antidepressants, antipsychotics and mood stabilisers are used. Many report positive effect with electroconvulsive therapy, mostly in combination with pharmacotherapy.


Minggu, 13 Mei 2012

WESTLIFE HALO/HOW TO BREAK A HEART MIX LYRICS

Remember those walls I builtWell, baby they're tumbling down
And they didn't even put up a fight
They didn't even make up a sound

I found a way to let you in
But I never really had a doubt
Standing in the light of your halo
I got my angel now

It's like I've been awakened
Every rule I had you breakin'
It's the risk that I'm takin'
I ain't never gonna shut you out

Everywhere I'm looking now
I'm surrounded by your embrace
Baby I can see your halo
You know you're my saving grace

You're everything I need and more
It's written all over your face
Baby I can feel your halo
Pray it won't fade away

halo halo halo
halo halo halo
halo halo halo
halo halo halo


ha ha ha ha ha
ha ha ha ha ha
ha ha ha ha ha.....

Since you're not worth my love
I haven't given up
I'm stronger than that
(I'm stronger than that)
And though my heart will break
I'm takin' back my faith
Cos right now my world is spinnin' too fast
But you won't be the end of me
If you were the one you wouldn't hurt me so bad
You gave me the world

Gave me the world to take it all away
All you left me was yesterday
And this space in my heart
Now it's slowly tearin' me apart
I'm takin' all that I learned from you
I'll make it something I'll never do
I can't be who you are
You taught me how to break a heart

ha ha ha ha ha
ha ha ha ha ha
ha ha ha ha ha.....

Hit me like a ray of sun
Burning through my darkest night
You're the only one that I want
Think I'm addicted to your light

I swore I'd never fall again
But this don't even feel like falling
Gravity can't forget
To pull me back to the ground again

Feels like I've been awakened
Every rule I had you breakin'
The risk that I'm takin'
I'm never gonna shut you out

Gave me the world to take it all away
All you left me was yesterday
And this space in my heart
Now it's slowly tearing me apart
I'm takin' all that I learned from you
I'll make it something I'll never do
I can't be who you are
You taught me how to break a heart

halo halo halo
halo halo halo
halo halo halo
halo halo halo

You taught me how to break a heart