Selasa, 26 Juni 2012

The Blue Eyes of the Lighthouse (part 4)


      “Happy birthday Darren!!”
       Darren memandangiku dari kepala sampai kaki. Memandang tatanan rambutku, dress biru lautku hingga sepatu wedgesku. Kemudian menatap kado ditanganku.
       “Wow...” katanya. “Kau cantik”
       “Thanks” cengirku sambil masuk kedalam rumah Darren. Hari ini Darren merayakan ulang tahunnya yang ke-17 dirumahnya yang besar. Ia mengundang teman-teman kelas kami. Saat itu sudah mulai ramai, dan aku menyadari aku sedikit terlalu terlambat untuk datang ke pesta ulang tahun teman baikku.
       “Aku hampir berpikir kau nggak datang” tawa Darren. Malam ini ia benar-benar cantik dengan dress maroonnya. “Thanks kadonya...Nicky sudah menunggu disana!”
       “Menunggu?” aku naik darah. Menatap Nicky dan Georgina yang sedang duduk di sofa. “Apa maksudmu menunggu hah?! Kau nyindir? Kau menyebut cowok yang datang bersama pacarnya itu “menunggu” ku? Aku menyesal sudah memberitahumu tentang dia”
       “Hahahaha...santai dong! Dia tadi bertanya padaku kok kau ada dimana. Senang kan?” Darren memberiku segelas minuman.
       “Bagaimana bisa aku senang selama dia punya cewek yang dia sayangi?” Aku meminum minumanku. “Sudahlah Darren...aku sedang dalam usaha move on. Nggak usah membicarakan dia oke? Lebih baik jangan ganggu aku makan. Kau lebih baik temani pacarmu sana!”
       “Pikiranmu makan melulu...” Darren berdecak kesal. Berjalan meninggalkanku.
       Aku menghampiri meja yang penuh dengan makanan. Lalu meraih apapun yang bisa kumakan. aku melihat disampingku seseorang sedang mengambil segelas soda. Aku hampir tersedak saat menyadari orang itu adalah Georgina. Aku memasang tampang sok cool. Ia tersenyum kearahku. Aku membalas dengan senyuman paling tolol yang kupunya. Aku ingin buru-buru pergi dari situ lalu menghampiri Darren dan Edward. Tapi tiba-tiba ia menatapku dan berbicara dengan suara nyaris tak terdengar.
       “Kau suka pada Nicky?”
       Aku merasa jantungku melompat entah kemana. Tidak mempercayai pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari mulut Georgina. Mulutku penuh makanan. Aku terjebak dalam suasana yang benar-benar tidak bagus.
      “Hmmp...” aku berusaha mengunyah makanan secepat mungkin dan menelannya. Wajahku pasti tidak karuan sekarang. Aku merasa bodoh. Aku panik. Georgina sepertinya jijik melihat ekspresi ajaib itu. Tuhan, setidaknya jaga image-ku didepan gadis level atas begini. Kenapa aku selalu terlihat tolol sih? Rasanya aku ingin lari, naik keatas kuda pacu dan menungganginya pulang kerumah.
      Aku menelan makanan.
      “Hahaha...kau bicara apa sih Gina?” kataku sok akrab.
      “Kau selalu memperhatikan Nicky, aku tahu itu...” katanya lagi.
       Rasanya aku ingin memberinya gas tidur. Ia menatapku dengan pandangan tenang, tapi kuat. Seakan ingin mempertahankan laki-laki yang dicintainya. Aku tidak kuat lama-lama menatap matanya. Aku menghela nafas sesaat sebelum ia melontarkan pertanyaan yang sama dengan suara datar.
       “Kau suka pada Nicky kan?”
       Aku meletakkan makanan yang kuambil diatas meja. Mau sampai kapan aku terlihat tolol? aku menatap matanya, kami bertatapan sesaat. Aku tersenyum.
       “Iya” jawabku sepenuhnya yakin.
       Georgina terpaku sesaat menanggapi ucapanku.
       “Kau tidak akan bisa mengambilnya dariku...” katanya tenang.
       Aku hanya tertawa menanggapinya.
       “Memangnya siapa yang mau mengambilnya? Nicky sangat mencintaimu. Kau juga kan? Kau gadis yang sangat cantik dan sempurna. Kalian pasangan paling serasi didunia ini. Walaupun aku ingin mengambilnya pun, dia pasti tidak akan mau melepaskanmu. Jadi kau tenang saja. Anggap saja aku salah satu fansnya...”
       “You’re different!” ujar Georgina.
      Aku melongo mendengarnya.
       Georgiana tampak ragu dengan kata-kata yang ingin ia ucapkan setelahnya. Ia lalu terdiam, menunduk. Ia berjalan meninggalkanku dan kembali duduk disebelah Nicky. Mungkin saja ia melaporkan pada Nicky, memberitahunya tentang perasaanku. Tapi aku sudah tidak peduli. Biarlah ia tahu semuanya. Biarlah ia tahu tentang perasaanku agar selanjutnya ia menjauhiku. Agar hidupku yang berat saat aku mengenalnya berubah seperti dulu. Menjadi hati yang paling damai.
       Tuhan, izinkan aku melupakannya. Buatlah aku jatuh cinta pada laki-laki manapun. Siapapun selain dia...

***
      
       “Babe?”
       Lamunanku buyar. Aku menyusun kembali kesadaranku dan menatap sosok tampan didepanku. Aku meraih cangkir kopiku dan meminum kopi panas yang menghangatkan tubuhku. Aku tersenyum menatap pacarku.
       “What, Mark?” sahutku dengan suara pelan.
       Sosok itu memandangku mesra.
       “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyanya.
       “Tentu saja album baru Westlife...aku sangat excited. Apa tadi judulnya?” cengirku.
       “Coast to coast” jawab Mark, tersenyum. “Wish us luck, Michelle...oh ya, besok Westlife akan berkumpul lagi, kau mau ikut? Nicky sepertinya kangen padamu”
       “Yang benar saja...” aku tertawa. “Ngapain dia kangen padaku? Dia kan sudah bertunangan dengan Georgina”
       Mark menggenggam tanganku. Aku tersenyum padanya. Mark sangat tampan. Sebenarnya aku tidak mengerti kenapa ia bisa menembakku saat Westlife pulang world tour. Selama ini aku tidak menyangka ia menyimpan perasaan khusus padaku. Rambut dark brownnya, mata birunya, bibir kemerahan miliknya, semuanya benar-benar menunjukkan ia benar- benar rupawan. Sekarang aku yakin padanya. Yakin dengan hubungan kami. Setiap ia melihat mataku, aku selalu yakin.
       Sejujurnya, aku sama sekali tidak memikirkan album baru Westlife tadi. Aku memikirkan hal lain. Aku ingat masa-masa saat aku bersekolah di Plunkit high school. Saat-saat aku jatuh cinta pada Nicky, aku mengingat itu semua begitu saja. Aku bahagia aku memiliki Mark sekarang. Hidupku sangat sempurna dengannya disampingku. Aku mencium pipi Mark saat kami keluar dari kedai kopi. Entah mengapa, aku merasa ingin menciumnya saat itu juga.
       “Michelle...” pipinya memerah. Wajahnya terlihat lucu sekali.
       Ia menatapku, menyentuh wajahku, mendekatiku, kemudian perlahan memejamkan matanya. Aku memegang kedua pundaknya.
       “PACARAN MELULU!!!” aku kaget setengah mati saat mendengar suara seruan usil itu. Aku buru-buru menyingkir dari Mark. Wajahku merah padam menyadari baru saja kami hendak berciuman. Aku menganga saat melihat Nicky dan Brian didepan kami.
       “Ups...kami ganggu ya?” Nicky memasang tampang menyebalkan.
       “Nico!kau konyol banget!kau mencuri ideku! Harusnya aku yang mengagetkan mereka!” Brian berteriak di telinga Nicky.
       “Nggak usah teriak di telingaku bisa nggak?!” ujar Nicky kesal. Mengacak-acak wajah Brian dengan tangannya. Brian membalasnya dengan mencubit kedua pipi Nicky, Nicky menendang lutut Brian.
       “SAKIT, pirang!” jerit Brian.
       “Kau juga pirang, pirang!!” Balas Nicky tidak mau kalah.
       Aku dan Mark melongo memandang mereka berkelahi seperti bocah umur 5 tahun. Aku menjewer telinga mereka berdua.
       “Tenang saja. Kalian berdua berhasil mengagetkanku setengah mati!” teriakku kesal.
       Mereka meringis.
       “Kenapa kalian ada disini?” tanya Brian.
       “Harusnya aku yang bertanya!” ujarku.
       “Nicky mau beli kado ulang tahun untuk Gina, aku menemaninya” Kata Brian. “Oh ya...Shane dan Kian bilang mau makan malam bersama, mau ikut nggak?”
       “Tentu saja kan?” Mark tersenyum. “Hei, lagipula kalian harus bayar perbuatan kalian. Gara-gara kalian aku nggak jadi dapat ciuman!”
       “Cium saja lagi. susah amat sih?!” Brian memasang ekspresi berlebihan.
       “Jangan pasang wajah ajaib begitu atau kucium kau!” Mark kesal.
       “Sorry Marco, I love you...tapi aku nggak mau dicium olehmu” kata Brian dengan tampang serius. Aku tertawa terbahak-bahak.
       “Sudahlah! Ayo kita jalan dasar bocah-bocah bodoh!” aku menahan tawaku. Menggandeng tangan Mark dan Brian.
       Lagi-lagi aku mengingat masalaluku saat kami berempat masuk kedalam mobil. Aku merindukan Darren. Oh ya...Darren...apa kabar dia sekarang? Aku terus berpikir hingga aku tertidur di mobil bersama bayang-bayang masalaluku.

***

       Aku mendapat nilai tertinggi dalam ujian akhir sekolah. Anak-anak dikelasku sepertinya ingin memasukkanku ke jurang saat melihat nilaiku. Aku sih, biasa saja. Bukannya sombong. Habis disaat mereka liburan ke pantai, berselancar, berjemur, membuat istana pasir, aku justru berdiam diri dirumah. Belajar dan menyelesaikan novelku.
       Alasannya, Cuma satu...Aku tidak mau melihat wajah Nicky selama aku bisa. Aku belum bisa melupakannya. Dan aku benci jatuh cinta lagi, dan jatuh cinta lagi setiap melihatnya. Sekarang lihat saja disana...Darren sedang berdiri bak batu karang, berkacak pinggang dan menatapku dengan wajah setan.
       “Apa-apaan nilaimu itu hah nenek sial?!” jeritnya.
       Aku meraih tasku dan berjalan keluar kelas, menghiraukannya.
       “HEY!!apa-apaan kau?!dasar anak sialan!siapa yang mengizinkanmu pergi?!” ia meraih lenganku dan mencubit pipiku kencang-kencang.
       “SAKIIIIIIIT!!” jeritku, balik mencubit pipinya. “Makanya belajar, jangan pacaran melulu, jangan shopping melulu, jangan jalan-jalan setiap sedetik sekali!”
       “Berisiiiik! Aku kesal beneran nih! Kenapa cewek yang dulunya lebih berantakan dari kapal pecah bisa dapat nilai paling bagus?!” Darren mencubit hidungku, lalu tersenyum. “Kau ajaib sekali, selamat ya...”
       Mataku berkaca-kaca. Aku tahu dengan berakhirnya ujian sekolah ini, kami akan segera berpisah. Aku memeluk Darren. Ia benar-benar sahabatku yang paling baik. Dan aku tidak mau berpisah dengannya. Lama-lama tangisku makin deras. Pundakku bergetar dan aku memeluknya makin erat
       Darren ikut menangis. Ia ikut memelukku.
       “Jangan lupakan aku ya...” katanya lirih.
       “Nggak akan!” ujarku penuh emosi. Aku sangat menyayangi gadis dipelukanku ini. Ia melepaskan pelukannya. Memegang bahuku.
       “Kau benar-benar menyerah soal Nicky?” Tanyanya penuh perhatian.
       Aku mengangguk, menyeka airmataku.
       “Menyerah seratus persen. Hahahaha...doakan aku biar dapat cowok yang lebih ganteng ya! Sebentar lagi aku tidak akan bisa bertemu Nicky lagi. cukup lega...tapi lumayan sedih juga...katanya dia ingin ikut audisi seleksi anggota boyband dari Sligo...”
       Darren mengangkat alis.
       “Boyband?boyband apa?” tanyanya.
       “Boyband dari Sligo. Kalau nggak salah namanya...” Kataku, berusaha mengingat.
        
       “I O YOU...”

***
      

Senin, 25 Juni 2012

Created by me

Kalau kalian cemburu, dimohon jangan meniru perilaku saya. karena tidak sesuai dengan perikeistrian. terima kasih...dimohon kalian jangan lari dari kenyataan. okay, aku nyebur sumur dulu - Malika


Sabtu, 23 Juni 2012

The last day of Westlife

I can't say anything :'(
I LOVE THEM MORE THAN WORDS CAN SAY!!
I LOVE THEM BIGGER THAN THE WORLD!!
I'm on twitter with Westlifers. and Westlife is trending
#ThankYouWestlife

Jumat, 22 Juni 2012

The Blue Eyes of the Lighthouse (part 3)


       Aku hampir tidak percaya saat nama Kyla terpampang di display handphoneku. Aku duduk di tempat tidurku. Buru-buru membuka dan membaca SMS itu.
       “Hey Michelle...maaf aku tidak pernah menghubungimu selama ini. Tadinya aku benar-benar tidak mau menghubungimu lagi. Tapi kurasa ini tidak adil untukmu...Michelle, maaf. Sebenarnya sejak dulu, sejak kita bersahabat di Mullingar...Mum selalu tidak suka denganmu. Sejak dulu ia selalu melarangku berteman denganmu. Ia selalu mengomentari apapun tentangmu. Caramu berpakaian, rambutmu, caramu bicara, caramu berjalan, dan semuanya. Kau sudah tau kan bagaimana keluargaku?Mum menginginkanku berteman dengan orang yang dianggapnya baik. Bahkan mungkin keterlaluan sopan. Tapi aku tidak peduli karena kupikir kau asyik.”
       “Tapi kemudian kau meninggalkanku Michelle...kau pindah ke Baldoyle. Jadi kupikir untuk apa mempertahankan persahabatan kita?aku bosan dengan omelan Mum tentangmu. Ia bahkan mengancamku tidak akan mengizinkanku masuk universitas pilihanku kalau aku masih berteman denganmu. Mum selalu serius dengan omongannya Michelle...kau tahu itu. Aku merasa memang kita tidak ditakdirkan untuk berteman lagi. aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatanku untuk masuk universitas bagus hanya karena orang yang sudah meninggalkanku. Aku yakin kau punya banyak teman baru yang baik disana. Yang jauh lebih baik daripada aku. Maafkan aku Michelle.terima kasih selama ini.selamat tinggal...”
       Aku terdiam menatap display handphoneku. Aku mematung, terpaku. Rasanya aku tidak bisa bernafas. Rasanya aku ingin mati saja. Detik itu juga. Darahku seakan tidak mengalir lagi. jantungku terasa melambat, dan saat itu kurasakan ada air bening yang hangat mengalir menuruni pipiku.
       Hatiku terasa sakit. Lebih sakit dari kesakitan yang pernah kuderita selama ini. Airmataku terus mengalir. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Berusaha melepas sakit yang mengurung hatiku. Aku berlari keluar rumah. Tidak peduli walaupun Mum memanggilku berkali-kali. Diluar langit benar-benar gelap. Awan hitam berkumpul, menurunkan hujan yang lama-kelamaan semakin deras.
      Berlari, aku berlari. Entah berlari kemana. Aku berlari tanpa tujuan. Ditengah hujan. Sendirian. Aku terpeleset aspal yang licin. Aku terjatuh keras keatas aspal. Aku merasa seluruh tubuhku nyeri. Tapi aku berdiri kembali dan melanjutkan lariku.
       “Menurutku, pakai blazer yang tidak dikancingkan itu keren!”
       Kata-kata itu terngiang. Kata-kata Kyla yang membuatku makin semangat untuk tampil berantakan. Cowok-cowok dikelasku selalu menyebutku siluman cewek. Tapi kemudian Kyla berdiri didepanku dan melepas kancing blazernya.
       “Kalau kalian mau menjelek-jelekkan Michelle, jelek-jelekkan aku juga!”
       Aku terengah-engah. Terus menangis sepanjang jalan. Kakiku luar biasa sakit dan aku menggigil kedinginan. Tapi aku tidak mau berhenti. Aku terus berlari sampai akhirnya aku terjatuh lagi.
       “Michelle?” terdengar sebuah suara ditengah suara hujan yang bergemuruh
       Aku kenal suara itu.
       Suara yang kubenci.
       Aku mengangkat kepalaku. Nicky berdiri didepanku, menggenggam payung hitam yang melindunginya dari hujan.
       Ia menatapku panik.
       “Astaga! Kenapa kau hujan-hujanan?!kau luka-luka!” ia membantuku berdiri. Aku tidak bisa berbuat apapun. Aku sudah mati rasa. Ia memegangiku sambil memayungiku. Kami berjalan beberapa lama hingga kami sampai disebuah rumah. Ini pasti rumahnya, aku duduk diteras rumahnya yang luas. Ia masuk kedalam rumahnya dan memberiku handuk. Kemudian menatapku.
       “What happen to you?” tanyanya.
       Aku menggeleng.
       “You...you don’t have to know. you don’t have to bring me here. You don’t have to care about me. I hate you! You know that I hate you!!” jeritku.
       Ia terdiam. Menatapku dengan mata biru itu, mata biru yang bahkan tidak bisa berhenti kukagumi. Sampai sekarang.
       “Why do you hate me?...” gumamnya pelan.
       Tiba-tiba ia mengelus pipiku dengan salah satu tangannya.
       Aku kaku.
       Aku mengingat-ingat kenapa aku benci padanya. Karena ia menabrakku dan membuat lututku luka bahkan dihari pertama aku bertemu dengannya? karena ia selalu mengejekku? Karena ia lebih segala-galanya dariku? Atau...karena ia membuatku jatuh cinta dengan percuma?...
       “I won’t tell you why...” jawabku dengan muka datar.
       “You’re really a messy girl” katanya. “Totally different with Gina...”
       “Can you shut your m...”
       “But I see something inside of you...” kata Nicky memotong kata-kataku.
       “What do you mean?” tanyaku ketus.
       “I won’t tell you” jawabnya datar.
       Aku terdiam. Kali ini aku merasakannya lagi. merasa jantungku berdetak makin cepat. Merasa dada dan wajahku panas. aku memandanginya. Memandangi rambut blondenya, parasnya yang cool, bibirnya yang tipis, matanya yang biru, sebenarnya aku tahu dari awal orang ini benar-benar mengambil hatiku dan tidak mengembalikannya lagi. Aku tidak bisa membohongi hatiku lagi. tidak bisa memungkiri lagi bahwa cintaku padanya lebih besar daripada benciku.
       Tapi ini cinta yang tidak akan pernah kuungkapkan.
       Karena walau kuungkapkan, tak akan ada artinya. Sedikitpun...

***
      
        “Michelle, do you wanna hang out with me after school?” Darren menghampiri mejaku.
       Aku menutup buku yang sedang kubaca, menatap Darren.
       “I think, I can’t...I’m sorry Darren” aku kembali pada bukuku. “I’ve to prepare myself for the examination next week”
       “I still got no idea...actually what happen to you in the last five months?” Darren duduk disampingku. “you’ve changed”
       “Really?and then what about you?you’re too busy with your beloved boyfriend” kataku berusaha setenang mungkin.
       “What do you mean with that?!” Darren meninggikan suaranya. “You’re still my best friend. You have no boyfriend so you can’t understand!”
       Aku menutup bukuku lagi.
       “Yes. I have no boyfriend because I’m not beautiful like you...” kataku.
       “Michelle don’t make me emotional” Darren menghela nafas.
       Aku bangkit dari kursiku, keluar dari kelas dan menuju toilet wanita. Aku terdiam didepan cermin. Apa aku salah? Lima bulan telah berlalu sejak hari aku menerima SMS dari Kyla. Sejak hari itu, aku bertekad untuk keluar. Keluar dari hidupku yang sebelumnya. Aku memutuskan berubah.
       Dan disinilah aku, di toilet sekolah, memandangi sosokku di cermin. Rambut light brown ku sekarang lebih panjang dan sangat rapi. Setiap pagi aku selalu memberinya conditioner dan menyisirnya hingga rapi, aku memotong poniku yang berantakan, aku ke salon setiap seminggu sekali, aku selalu membersihkan wajah dan kulitku, dan aku berolahraga kapanpun aku bisa. Aku sudah kehilangan banyak berat badan. Dan aku sekarang selalu mengancingkan blazerku.
       Kyla tidak ingin berteman lagi denganku karena sosokku yang dulu.
       Nicky membanding-bandingkan aku dengan Georgina karena sosokku yang dulu.
       Cukup beralasan bagiku untuk mengubah diriku. Dan sekarang Darren malah bertanya apa yang terjadi padaku. Tentu saja ia tidak tahu apa yang terjadi padaku. Pacarnya jauh lebih penting daripada aku.
       Akupun sudah lama tidak bicara pada Nicky. Aku pindah tempat duduk ke meja yang lebih depan agar bisa menerima pelajaran dengan baik. Aku selalu mendapat nilai terbaik sekarang. aku bahkan mengalahkan Nicky dalam semua pelajaran kecuali olahraga. Hari liburku kugunakan untuk belajar.
       Itu sama sekali tidak mudah. Tapi aku berhasil.
       Walaupun begitu lama tidak berbicara dengan Nicky membuatku gila. Kadang ketika pelajaran sedang berlangsung aku melihatnya dari kejauhan. Menatap setiap gerakan yang ia buat. Menatap wajah seriusnya yang sedang konsentrasi pada buku catatannya, menatap gerakan tangannya saat menulis, menatap ia menguap didalam kelas. Itu saja sudah membuatku merasa jauh lebih baik.
       Aku terpaku.
       Sosok Nicky langsung terlihat dipinggir lapangan bola ketika aku keluar dari toilet. Aku mengerutkan dahi. Wajahnya terlihat sedih, ia terlihat rapuh, dan aku hampir tidak pernah melihatnya hanya menonton pertandingan bola. Biasanya ia selalu ikut bermain. Jadi keeper ataupun jadi pemain.
       Aku berusaha tidak peduli. Tapi rasa cintaku yang masih melekat ini mengalahkan segalanya. Aku menghampirinya dan duduk disebelahnya dengan hati-hati.
       “Ada apa?” tanyaku takut-takut.
       Nicky menoleh kearahku.
       “Kau peduli? Kalau nggak salah kau bilang kau membenciku...” Nicky berusaha terlihat usil seperti biasanya. Tapi hatinya sepertinya tidak setuju. Ia tetap terlihat rapuh dimataku.
       “Su, sudah deh jawab saja kenapa sih! Kalau nggak mau jawab ya aku pergi saja!” aku bangkit dari dudukku.
       Ia menarik tanganku.
       “Please stay...” gumamnya. Menggenggam tanganku erat-erat.
       Wajahku memerah. Aku tidak mungkin meninggalkannya. Jadi aku duduk lagi disampingnya. Berusaha bersikap normal.
       “Kau pernah patah semangat?” Nicky bertanya tanpa melihat wajahku.
       “Hidupku selalu penuh dengan patah semangat” jawabku.
       Nicky tertawa.
       “Kau bilang begitu sedangkan sekarang kau sudah mengalahkan nilai-nilaiku ha? Kau sebut itu patah semangat?”
       Aku diam saja.
       “Kau pasti tahu aku ingin sekali jadi pemain bola” Katanya lagi.
       “Kupikir disini nggak ada yang nggak tahu...” kataku.
       “And I have to forget it. I have to forget my dream to be a famous footballer” ia tersenyum sedih. “You know why?”
       Aku menggeleng bingung.
       “Tinggi badanku tidak memenuhi syarat” Kali ini Nicky tertawa. Tawa yang menyayat hatiku. “Hurt, eh?”
       “Hey Nicky...kau kan masih bisa tumbuh lebih tinggi! Jangan cengeng dong!” ujarku gemas. “Kau kan bukan kakek-kakek yang sudah berhenti tumbuh!”
       Nicky menggeleng.
       “Aku sempat bertemu dengan calon-calon pemain sepak bola Leeds United. Dan aku paling pendek disana. Aku hanya tumbuh beberapa sentimeter sejak masuk sekolah ini. Umurku sudah 17 tahun dan waktuku tidak lama untuk meninggikan badan.” Katanya. “Aku berusaha berpikir realistis. Karena kalau aku tetap tidak tumbuh sesuai keinginanku sedangkan aku memaksa kehendakku rasanya akan lebih sakit.”
       Aku tidak bisa berkata apa-apa.
       “Kau mau jadi apa, Michelle?” Tanyanya tiba-tiba.
       Aku ingin hidup bersama denganmu...jawabku dalam hati.
       “Penulis terkenal...” kataku akhirnya. “Penulis yang bukunya selalu dipajang di etelase sebagai best seller. Itu mimpiku sejak kecil.
       “Kau nggak perlu tinggi badan untuk jadi penulis...” Nicky tertawa.
       “Berhenti membicarakan tinggi badan!” ujarku. “Aku jadi merasa luar biasa pendek tahu. Aku kan lebih pendek darimu. Dengar, suaramu bagus. Kenapa kau nggak coba jadi penyanyi? Bahkan sejak sekarang saja kau sudah punya banyak fans. Jangan stuck pada satu hal kalau kau punya yang lain! Lagipula kalau kau jadi penyanyi pasti Georgina bakalan bangga banget padamu”
       Nicky menatapku, tersenyum. Belum sempat aku membalas senyumnya, Georgina sudah muncul didepan kami.
       Aku kaget melihatnya tiba-tiba datang. Ia terlihat cantik seperti biasanya. Bukan hanya cantik, kali ini tatapannya tajam. Dan tatapan itu mengarah kearahku. Aku mulai merasa...agak panik.
       “Who are you?” tanyanya. Suaranya ramah. Tapi tatapan tajamnya benar-benar terasa menusuk mataku. “I’m sorry, but can I take Nicky from here?”
       Michelle, Nicky adalah milik gadis cantik yang ada didepanmu. BUKAN milikmu. Aku terus membatin dalam hati. Berusaha tidak menyakiti hatiku sendiri. Aku harus kembali realistis. Tidak boleh berharap sedikitpun.
       “Sure...we just talked about the lesson in our class” aku tersenyum ramah pada Georgina. “I wanna go back to class now. Hahaha”
       Aku bangkit dari dudukku. Berjalan menjauh. Kenapa rasanya sakit? Kenapa rasanya dadaku disumbat sesuatu sehingga aku tidak bisa bernafas normal? Kenapa mataku panas? dan kenapa sekarang aku malah nangis?!
       Aku mengusap airmataku. Menarik nafas dalam-dalam. Aku tidak boleh menangis. Tapi tetap saja airmataku jatuh lagi. aku mengusap airmataku lagi. berusaha menghapus sesak didadaku tapi aku tidak bisa. Aku ingin senyumnya selalu ada didepan mataku, aku ingin suara tawanya selalu terdengar oleh telingaku. Aku ingin matanya birunya selalu menatap kearahku. Aku benar-benar jatuh kedalam lubang yang selama ini kuhindari. Bodoh... Benar-benar bodoh.
       “What’s wrong?” Darren muncul didepanku. Melihatku sedang menangis. Aku tahu aku tidak punya siapa-siapa selain dia. Ia temanku yang paling dekat walaupun sesering apapun ia meninggalkanku. Aku tidak tahan lagi. tangisku meledak. Darren panik dan langsung memelukku.
       “Ada apa Michelle? Ada apa?!” tanyanya.
       “I’m in love with him...” kataku jujur. Airmataku tidak bisa kukendalikan. Nafasku terasa berat. “I know that I’m so damn stupid but I love Nicky. I can’t fool my heart. I love him...I love him so much...”

***

Rabu, 20 Juni 2012

The Blue Eyes of the Lighthouse (part 2)


        Georgina Ahern.
        Ia terlihat sempurna dimataku. Aku terus melihat kearah depan kelasku. Ia cantik sekali. Rambutnya blonde lurus, senyumnya indah, tubuhnya bagus sekali, dan yang paling membuatku terpesona, ia memiliki dua pasang mata yang sangat indah. Mungkin seperti aku yang mengagumi kedua pasang mata Nicky bahkan sejak pertama bertemu dengannya, Nicky juga mengagumi kedua pasang mata indah Georgina. Aku tersenyum. Walaupun merasa bodoh, aku sangat mengakui mereka pasangan yang serasi.
       Nicky terlihat enjoy mengobrol dengannya. Nicky merangkulnya dan terus mengobrol seakan-akan mereka tinggal didunia yang berbeda. Suara tawa Georgina terlihat merdu. Serasi dengan suara husky Nicky yang kukagumi.
       Aku pulang sekolah bersama Darren. Ternyata sudah rutinitasnya setiap hari membawa mobil ke sekolah. Dan kebetulan rumah kami ternyata hanya terpaut beberapa blok.
       “Michelle?” Darren memecah lamunanku.
       “Yeah?” Sahutku
       “Kau nggak suka dengan sekolahmu sekarang ya? Kau kelihatan murung” tanyanya.
       “No...” aku malas menjawab. Aku bukannya tidak suka sekolahnya. Tapi aku benci dihari pertamaku sekolah, aku justru jatuh cinta pada cowok sempurna yang punya pacar sempurna.
       Rasanya aku ingin kembali ke Mullingar. Ke sekolahku yang lama. Dikenal sebagai cewek paling berantakan, tanpa cowok yang bisa disukai. Cowok-cowok itu justru terus mengejekku. Tapi aku tidak keberatan, karena apa yang mereka bicarakan tidak salah. Dengan rambut tidak pernah disisir dan blazer yang tidak pernah dikancingkan aku tetap merasa bahagia.
       Aku baru sekali merasa sangat minder. Aku ingin bertemu Kyla. Sahabatku di Mullingar. Aku benar-benar ingin cerita padanya. Aku ingin menceritakan betapa anehnya hidupku saat berpisah dengannya.
       Ketika aku dan Darren sampai didepan rumahku, aku mengucapkan terima kasih padanya. “Thanks Darren, you’re so kind” aku tersenyum,
       “Kita berangkat sekolah bareng yuk setiap hari. Aku malas berangkat sendirian terus” ajak Darren excited.
       “Really? Thank you so much, girl!” ujarku.
       “Yeah,I’ll pick you up tomorrow. See ya Michelle!” Darren melambaikan tangan. Aku menyambut lambaian tangannya.
        Aku masuk kedalam rumah dan mengunci diriku didalam kamar. Aku mengambil ponselku dan menelepon Kyla. Aku menunggu Kyla mengangkat telepon. Nada sambung terdengar. Sekali, dua kali, tiga kali, sampai akhirnya Kyla benar-benar tidak mengangkat teleponnya.  Aku menyerah, lalu meninggalkan pesan.
       “Kyla...” suaraku terdengar berat. “Are you busy? Sorry for disturbing you. But i need you. Call me back maybe?”
       Aku meletakkan ponselku diatas meja dan aku berbaring diatas kasurku. Aku baru sadar Kyla tidak membalas smsku sejak aku pindah. Apa yang terjadi? Apa ia sudah melupakanku? Secepat ini?
       Pikiranku kembali pada Nicky. Aku terduduk dan melihat cermin. Aku sadar rambutku benar-benar berantakan. Aku mengambil sisir dari laci meja riasku. Aku hampir tidak pernah menyentuhnya. Lalu aku mulai menyisir rambutku.
       “AAAAAAAAAAHHH!!” jeritku kesakitan. Aku melihat kearah sisirku dan oh...rambutku rontok banyak sekali. Aku menyisir sambil menahan sakit. Dan aku mulai menemukan rambut asliku. Lama-kelamaan rambutku tidak kusut lagi. Aku menyadari, ternyata rambutku benar-benar halus dan jatuh jika disisir. Aku tertawa aneh. Manusia macam apa sih aku ini?
       Tapi tetap saja aku tidak bisa secantik yang kuharapkan. Mataku tidak seindah mata Georgina. Kulitku tidak semulus dia, dan aku mulai gendutan karena kebanyakan makan. Aku membuka pintu balkon dan duduk disana. Menikmati angin sore Baldoyle. Memikirkan segalanya. Apapun yang bisa kupikirkan. Angin berhembus dingin membuatku ngantuk. Aku memejamkan mataku.
       “Hooooooi!!”
       Aku membuka mataku. Mendengar suara seruan dari bawah. Aku sadar aku tertidur di balkon sampai matahari hampir terbenam. Aku melihat kebawah, dan terlihat Nicky sedang berdiri dijalanan depan rumahku.
       “Ngapain kau tidur disana?” Nicky tertawa.
       Aku kaget setangah mati.
       “Ngapain kau disini?!” ujarku malu. “Lagipula aku mau tidur dimanapun terserah aku!”
       “Kau ini bodoh ya?” Nicky mengangkat alis. “Rumahku kan hanya beberapa meter dari sini. Lalu tiba-tiba di perjalanan pulang aku melihat cewek aneh sedang tidur di balkon dengan mulut terbuka”
       Wajahku merah padam.
       “Shut up!” jeritku. “Kenapa kau sibuk mengomentariku sih?!kau kan punya pacar. Urus saja pacarmu!”
       “Darimana kau tahu aku punya pacar?” Nicky mengerutkan dahinya.
       “Lain kali kalau kau nggak mau orang tahu, jangan pacaran didepan kelas” kataku ketus.
       Nicky tertawa lagi.
       “Aku kan tidak mungkin menertawai Gina. Ia cewek yang sempurna, jadi aku senang kau datang. Ada yang bisa diejek-ejek.” Cengirnya.
       Cukup, aku benar-benar kesal.
       “Oh!begitu. aku cukup tahu saja. Pergi kau! Aku nggak mau melihat wajahmu lagi!!” aku masuk kedalam rumah. Membanting pintu balkon kencang-kencang. Detik itu juga aku rasa aku membencinya. Sangat sangat benci. Aku tidak mau melihat wajahnya lagi. Sudah nggak ada jatuh cinta dalam kamus Michelle Myron. Dia musuh!
       Keesokan paginya, cukup bagus. Aku tidak bangun kesiangan. Aku masuk ke mobil Darren dengan wajah suram. Aku tidak menyisir rambutku lagi. Bahkan aku tidak memakai blazer. Blazerku kupegang ditanganku.
       “Hey, what’s wrong?” Darren menatapku aneh.
       Aku menggeleng.
       “Hey, mungkin disini nggak sebaik di Mullingar. Tapi tersenyumlah...” Darren menyetir tenang.     
       Aku tersenyum maksa.
       “Thanks...aku merasa moodku kurang bagus” kataku.
       Tiba-tiba Darren mengerem. Ia menatapku., kemudian mengambil sisir dari tasnya.
       “Kau diam saja” katanya. ia mulai menyisir rambutku.
       “Hey! What are you doing?!” ujarku.
       “Kubilang kan diam!” Darren terus menyisiri rambutku. Lalu ia mengambil bedak dan mengoleskannya ke wajahku.
       “Darren!”
       “Ssssssshhhh!!”
       Darren memberiku lip balm. Dan aku pasrah.
       Ia tersenyum padaku.
       “Kalau kau nggak berantakan, kau kelihatan cantik” ia menepuk pipiku pelan. “Pakai blazermu”
       Aku bengong seperti orang bodoh. Darren menyetir mobilnya lagi. Ketika sampai disekolah, aku memakai blazerku.
       “Kancingkan!” ujar Darren.
       Darren semakin lama semakin mirip Mum...
       Aku mengancingkan blazerku.
       “Kalau begini kan aku jadi nggak malu jalan bersamamu” Darren menepuk punggungku. “Let’s go to class!”
       Dan mulai hari itu, aku benar-benar sadar aku bertemu Nicky untuk menjadi musuhnya. Aku suka pelajaran musik. Dan aku suka bernyanyi. Aku merasa enjoy saat bernyanyi sampai kudengar suara Nicky bernyanyi. Nilai pelajaran musiknya pasti lebih bagus dariku. Bukan itu saja. Dalam pelajaran bahasa prancis ia selalu mengalahkan nilaiku. Jika aku mendapat nilai B, ia akan mendapat nilai B+, jika aku mendapat nilai A, ia akan mendapat nilai A+, jika aku mendapat nilai A+, ia akan dapat poin tambahan dari guru bahasa prancis karena pronounciationnya yang bagus. Benar-benar sialan.
       Kami sama-sama benci pelajaran matematika. Tapi tetap saja. Ketika aku mendapat nilai D, ia akan mendapat nilai C+ dan ia masih menggerutu melihat nilainya yang jelas lebih tinggi dariku. Aku benar-benar ingin membunuhnya.
       Aku bodoh sekali dalam berolahraga. Jika berlari, aku nggak lebih cepat dari siput. Aku tidak bisa memegang pemukul softball dengan benar, aku akan berlari ngeri jika bola volley melayang kearahku. Dan ketika kulihat Nicky, larinya benar-benar cepat, ia selalu bisa mencetak gol dalam sepak bola. Dan ia memang keeper terbaik. Ia tidak akan membiarkan bola musuh masuk kedalam gawangnya. Sekalipun tidak.
        Dia lebih segala-galanya dariku. Dan itu membuatku kesal. Parahnya lagi, setiap ia merasa menang, ia akan tersenyum padaku. Senyum itu...senyum paling menyebalkan yang pernah kulihat! Hari-hari di Plunkit  high school seperti neraka jika ada seorang Nicky Byrne! Belum lagi setiap pulang sekolah ia akan bergandeng tangan dengan Georgina seakan-akan mereka tinggal di planet lain, bukan di bumi. Bahkan aku yakin mereka nggak akan peduli walaupun ada pesawat jatuh tiba-tiba didepan mereka.
       “HIIIIIIIIIIHHHHH!!!” aku menjambaki rambutku kesal didalam mobil Darren.
       “What’s going on?!” Darren kaget.
       “Aku benar-benar benci pada Nicky!!dia benar-benar keparat! Kalau kau mau membantuku membunuhnya, aku janji kau akan masuk surga!”
       Darren tertawa geli.
       “It’s impossible for me to kill that perfect guy” katanya.
       “Kau jangan membuatku makin kesal!” ujarku.
       “Hey, Michelle...menurutmu Edward itu bagaimana sih?” Darren senyum-senyum.
       Lagi-lagi Darren membicarakan cowok kelas sebelah yang disukainya. Aku mendesah malas.
       “Kenapa mendesah begitu sih?!aku kan Cuma minta pendapatmu” darren kelihatan kesal.
       “Dia tampan, baik, dan aku yakin ia juga tertarik padamu, Darren. Kau cantik dan kaya. Siapa yang nggak suka padamu?” kataku santai.
       Darren tertawa-tawa sinting.
       “Dia mengajakku nge-date sabtu ini...” Darren tersenyum senang.
       “Yeah, baguslah...” kataku cuek.
      “Cuma segitu tanggapanmu?!” Darren memukul setir.
       “Congratulation my darling Darren Williams! Congratulation!” ujarku.
       Darren menonjok lenganku.
       Aku bukannya tidak senang teman dekatku bahagia. Tapi aku punya firasat buruk. Firasat buruk bahwa Darren akan jauh dariku. Dan terbukti firasatku benar.

***

       Enam bulan berlalu. Dan sudah dua bulan aku tidak naik mobil Darren lagi. Seperti yang ia harapkan, ia jadian dengan Edward dan sekarang ia memilih meninggalkan mobilnya dirumah. Ia akan berangkat dan pulang bersama Edward. Aku mengayuh sepedaku dengan hati kosong. Aku kangen Darren. Aku kangen bercanda dengannya didalam mobil.
       Tapi aku lebih merindukan Kyla. Dia benar-benar sudah melupakanku. Padahal dulu di Mullingar kami dekat sudah seperti kakak dan adik. Apakah manusia harus berubah begini? Apakah didunia ini hanya aku yang tidak berubah? Aku meletakkan sepedaku di garasi dan naik ke lantai atas. Aku merebahkan diri diatas kasurku.
       Sudah puluhan pesan suara kukirim pada Kyla. Dan tidak ada satupun jawaban. Aku meraih handphoneku dengan hati sakit. Ada SMS masuk. Aku hampir melompat ketika melihat display handphoneku.
       SMS dari Kyla.

The Blue Eyes of the Lighthouse (part 1)


       “Michelle!!”
       Aku mendesah mendengar seruan itu. Aku terus berbaring malas di tempat tidurku. Aku bahkan tetap memejamkan mataku. Menarik selimutku sampai menutupi kepalaku.
       “Get out of your room and go downstairs!NOW!” suara itu terdengar lagi.
       “Mum! It’s Sunday!” ujarku kesal sambil menyingkap selimutku. Tapi akhirnya aku turun dari tempat tidurku. Hawa dingin langsung menyerangku. Aku membuka pintu kamarku dan menuruni tangga rumahku yang terbuat dari kayu mahoni. Sebagian besar rumahku memang terbuat dari kayu dan aku menyukainya. Aku lebih suka rumahku yang sekarang, untung saja keluargaku pindah ke Baldoyle.
        “Kau benar-benar anak malas. Besok kau sudah mulai sekolah di Plunkit high school. Sekali lagi kuingatkan kau, Michelle Meckenzie Myron.” Omel Mum.
         Aku memutar bolamataku, duduk didepan meja makan. Aku sama sekali tidak menganggap itu istimewa. Pindah sekolah kan biasa saja. Aku kan sudah dua kali pindah sekolah. Aku pasti dapat teman. Aku pasti tetap nomor satu dalam pelajaran bahasa. Walaupun akan tetap paling rendah dalam pelajaran matematika.
        “You’ll turn to seventeen this year” Mum menaruh sepotong roti dihadapanku. “Perbaiki citramu disekolah. Sisir rambutmu sebelum berangkat sekolah, jangan salah bawa buku, kancingkan blazermu...kalau terus seperti ini, nggak akan ada cowok yang suka padamu.”
        Sekali lagi, aku memutar bolamataku.
        “Mum, I don’t wanna have a relationship.” Gerutuku. “Pasti merepotkan”
        “Akan kupegang kata-katamu sampai kau jatuh cinta nanti” Mum berkata yakin.
        “Whatever...” desahku. Memakan roti dihadapanku.
        Aku memandang ke sekelilingku. Rumah baru, sekolah baru, hidup baru...namaku Michelle Myron. Aku memiliki darah asli Irish. Sebelum tinggal di Baldoyle, Dublin, aku tinggal di Mullingar dan aku juga sempat tinggal di Sligo. Aku memiliki rambut light brown yang selalu terlihat berantakan. Karena aku benci menyisir rambut, entah kenapa. Bolamataku hazel dan aku tidak terlalu tinggi dalam ukuran gadis berumur 16 tahun. Aku tidak pernah menganggap diriku cantik.
       “Mum, aku mau pergi keliling naik sepeda” kataku.
       “Okay..but you have to prepare for tomorrow before you go” Mum menatapku.
       “I’ve prepared anything.” Kataku. Bangkit dari dudukku, mengganti bajuku dengan T-shirt disertai jaket dan celana pendek. dan menuju garasi rumahku. Kemudian menuntun sepedaku yang berwarna ungu cerah.
        Aku mengayuh sepedaku dan melihat ke sekeliling. Rumah-rumah disini kebanyakan memang sederhana tapi nyaman. Pohon-pohon rindang menghiasi jalanan. Aku melewati beberapa kedai teh dan taman-taman. Aku membelokkan sepedaku di sebuah tikungan, dan saat itulah bencana terjadi.
       “BRAKK!!”
       Aku menabrak seseorang yang juga sedang mengendarai sepeda. Aku jatuh dari sepedaku dan jatuh lumayan keras keatas aspal. Orang yang kutabrak juga jatuh dari sepedanya. Aku menjerit dan meringis kesakitan. Tak lama kemudian kulihat sebuah tangan mengulur kearahku.
       “I’m really sorry...” seorang cowok berdiri didepanku. “Are you okay?”
       Dengan ragu aku meraih tangan cowok itu dan bangkit.
       “Yeah, I’m okay...” kedua lututku luka. tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Lengan cowok tadi juga tergores. Kutatap sosoknya, cowok itu berambut pirang dan berbolamata biru. Ia memandangiku dan meminta maaf sekali lagi. Aku mengangguk.
       “Biar kuobati lukamu...” katanya.
       “Nggak usah. Aku pulang saja” Aku menolak.
       “But...”
       “ Berisik amat sih, kubilang kan nggak usah!” ujarku jengkel. Mengambil sepedaku.
        “Okay, alright...siapa namamu?kau baru ya disini?” tanyanya.
        Aku tidak menjawab dan langsung menaiki sepedaku. Malas berurusan dengan orang asing. Aku meninggalkannya begitu saja. Ia pasti kesal, aku tahu. Tapi ia diam saja. Lagipula buat apa aku berbaik hati pada orang yang sudah membuat lututku luka-luka? Aku mendesah panjang. Tapi ada satu yang terus menempel di kepalaku.
        Mata cowok itu. Entah mengapa aku terus memikirkannya sepanjang perjalanan.

***  
        
        Pagi ini tidak sebagus yang kupikirkan.
        Aku terlambat bangun dan ini sama sekali tidak bagus. Mum marah besar. Aku tidak mau mendengar omelannya. Aku cepat-cepat keluar rumah dan naik ke mobil dad. Mobil melaju kencang. Waktu yang tersisa untukku hanya sekitar lima menit. Seperti biasa, aku tidak menyisir rambutku dan tidak mengancingkan blazerku. Mau bagaimana lagi? Aku sudah terlalu telat untuk hal tidak penting begitu.
        Mobil dad berhenti didepan Plunkit high school. Sepertinya bel masuk nyaris berbunyi. Sekolahnya lumayan juga. Bangunannya cukup besar dan cukup banyak pohon yang tumbuh disini. Terdapat logo sekolah dan tulisan besar-besar diatas bangunan “PLUNKIT HIGH SCHOOL” aku mencari-cari kelas 2-C,kelas yang akan kutempati. Tiba-tiba bel berbunyi dan aku merasa tolol karena belum juga menemukan kelasku. Aku menyusuri tangga dan koridor dan akhirnya aku menemukan tulisan “2-C” disamping sebuah pintu. Aku berdiri didepan pintu.
        “Ah, itu dia. Kurasa itu teman baru kalian. Masuklah Ms. Myron...” seorang guru wanita tersenyum kearahku. Rambutnya sangat pendek dan ia memakai kacamata frame tebal “I’m Rose Finnegan, your teacher. And this is Michelle Myron guys...she’s from Mullingar”
        Aku tersenyum seadanya. Mrs. Finnegan menyuruhku duduk di bangku kosong yang kusuka setelah mengkritik cara berpakaianku. Aku duduk di bangku yang posisinya agak dibelakang. Dan saat aku menoleh kearah kanan, aku terbelalak. Benar-benar kaget.
        Disebelahku duduk cowok blonde yang kutabrak kemarin. Ia memandangku dengan tatapan familiar. Ia tersenyum kecil kearahku. Matanya, mata itu...mata yang bahkan sempat kumimpikan tadi malam, entah kenapa. Aku memalingkan wajahku. Merasa tidak enak. Kemarin aku meninggalkannya begitu saja. Tapi ia sedikitpun tidak terlihat kesal padaku. Aku pura-pura tidak mengenalnya.
        “Tuh kan...kau anak baru disini” katanya tiba-tiba. “I’m Nicky Byrne. So sorry for yesterday, Michelle”
        Aku menatapnya. Ia bahkan langsung memanggil nama depanku.
        “Nggak usah dipikirkan” kataku cuek. “Ngapain kau sok akrab banget?”
        Nicky tertawa.
        “Soalnya aku suka namamu. Lagipula nggak enak memanggil nama marga” katanya.
        Aku mengangkat bahu.
        “Terserah...” gumamku. Aku berdebar-debar. Aduh...apa yang terjadi padaku? Dada dan wajahku terasa panas. Suara Nicky benar-benar enak didengar. Suara husky lembut yang tidak banyak dimiliki cowok lain. Walaupun aku memaksa diriku untuk tidak peduli, tetap saja telingaku ingin mendengar suara itu lagi.
        Kurasa Mum sudah mengutukku! Aku benar-benar jatuh cinta sekarang. Terlalu konyol. Ini bahkan terlau cepat untuk disebut jatuh cinta. Tidak...aku hanya suka wajah dan suaranya. Ini terlalu konyol untuh disebut cinta. Tapi entah apa yang terjadi padaku, tanganku spontan bergerak mengancingkan blazerku. Walaupun rambut ajaibku tetap saja tidak disisir. Pagi itu, aku sama sekali tidak bisa menyerap pelajaran yang diberikan.
       “Hey, Michelle...I’m Darren Williams” seorang cewek menghampiriku saat jam istirahat. Aku menatapnya, rambutnya ikal kemerahan,bolamatanya hijau dan tubuhnya sangat ideal. Ia terlihat ramah. Aku tersenyum padanya.
       “Hi...” sahutku. “Nice to meet you”
       Darren duduk disebelahku.
       “Kau kelihatan akrab dengan Nicky. Kalian saling kenal?” tanyanya.
       “No...i just met him yesterday.accidentally” jawabku seadanya.
       “Dia populer disini. Dia selalu mau diminta jadi pengurus kelas, organisasi sekolah, dia juga punya wajah yang manis dan jago nyanyi. Kau beruntung disapa olehnya.” Darren tersenyum. “Dia juga keeper andalan team sepak bola sekolah”
         Aku menciut mendengarnya. Aku benar-benar bodoh. Buat apa aku tertarik dengan cowok populer sedangkan aku tidak lebih dari sekedar sampah disekolah ini?aku hanya mengangguk menanggapinya.
        “Georgina sangat beruntung...” kata Darren tiba-tiba.
        “Georgina?who’s she?” tanyaku.
        “Georgina Ahern...she’s Nicky’s girlfriend. She’s so lucky to have him”
        Aku mendengar petir dari dalam kepalaku. Aku benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak. Oke, aku baru saja tertarik pada cowok sempurna yang SUDAH PUNYA PACAR. Michelle Meckenzie Myron...apa yang terjadi padamu? Saat itu juga aku melupakan mata dan suara Nicky yang kukagumi. Aku tidak lebih dari seorang idiot.
        Tiba-tiba aku mendengar suara Nicky memanggil seseorang diluar kelas.
        “Gina!” serunya.
        Aku menoleh, kemudian melihat gadis yang benar-benar cantik berdiri didepan kelasku.

        ***