Kamis, 05 Juli 2012

The Blue Eyes of the Lighthouse (part 6)


       Baru saja aku keluar dari rumah, blitz kamera sudah menyerangku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Belakangan ini aku selalu diikuti papparazi karena jadian dengan Mark. Tadinya aku ingin hubungan kami dirahasiakan. Tapi Mark sepertinya lebih suka terus terang. Akhirnya aku pasrah. Kemanapun berjalan aku diikuti oleh jepretan kamera.
       Aku mau sih jadi orang terkenal yang dikejar-kejar wartawan. Tapi bukan begini yang aku mau. Lama-lama aku malu dan capek. Masalahnya, jangan-jangan aku ini nggak tahu diri ya?menerima Mark sedangkan hatiku masih jadi milik orang lain. Lagipula harusnya aku bercermin dulu sebelum menerima cowok seterkenal dan sebaik Mark! Tapi disisi lain aku juga berpikir Mark adalah malaikat yang dikirimkan untukku agar aku bisa melupakan Nicky. Aku menyayangi Mark, aku menyukainya, menghargai perasaan bodohnya padaku.
       Hari ini aku didandani lagi oleh Mum. Yah...kau tahu...bagaimana reaksi Mum saat tahu aku pacaran dengan Mark? Ia menjerit kencang sekali. Lalu dia malah marah-marah. Aku nggak mengerti jalan pikiran Mum. Mungkin ia terlalu shock. Aku harus menceritakan semuanya dari awal. Dan kau tahu...untuk menceritakan bagaimana aku bisa berhubungan dengan Mark, otomatis aku harus menceritakan soal Nicky. Aku bilang pada Mum kalau aku sudah melupakan Nicky.
       Novelku?
       Tuhan berpihak padaku. Novelku meledak dipasaran. Dan sepertinya kebanyakan pembaca novelku adalah para remaja patah hati. Tapi itu memberiku motivasi yang luar biasa. Aku menulis, menulis, dan menulis terus. Berharap novelku akan terus disukai oleh pembaca.
       Darren?
       Tolong jangan tanyakan dia. Dia mengamuk habis-habisan saat melihatku ada di televisi dan marah-marah setengah mati di telepon karena tidak mengabarinya. Habis bagaimana? Ini semua terlalu aneh dan aku bingung menceritakannya pada Darren. Ia menyumpah-serapahiku dan baru mau diam setelah aku bilang aku akan mempertemukannya dengan Mark. Masalah selesai.
       Oke, jadi ketika aku keluar rumah, langsung ada papparazi yang menantiku. Aku berusaha cuek dan berangkat dengan mobil sedan yang sudah menungguku didepan rumah. Editorku sudah setia menunggu dibelakang setir. Lalu mobilnya meluncur meninggalkan perumahan rumahku.

***

       Mark masuk kedalam studio. Hari ini akan ada pemotretan Westlife. Ia agak terlambat. The lads sudah datang semua dan sedang memakan chips berbungkus-bungkus. Dengan excited ia duduk disebelah Nicky dan merampas salah satu bungkus chips dari tangan Nicky. Nicky tidak bereaksi seperti biasanya. Ia Menatap mark marah.
       “Kembalikan!” hardiknya.
       Mark kaget dengan reaksi Nicky. Ia langsung menaruh bungkus chips itu disamping Nicky. Menatap Nicky heran.
       “What’s wrong with you Nico?” Mark terheran-heran.
       “Stay away from me Feehily...” Nicky langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar studio. Mark langsung mengikutinya. Mereka meninggalkan Shane, Brian dan Kian yang sedang berebut chips. Mark menarik Nicky.
       “Kau ada masalah apa denganku?” tanya Mark.
       Nicky menepis tangan Mark, tidak menjawab apa-apa.
       “Kenapa kau tidak jujur saja kalau ada masalah?” Mark melipat tangannya didepan dada. “Kenapa? Apa karena Michelle? Kau marah padaku karena aku jadian dengannya?
       “Kau nggak perlu sok tahu” Nicky menggeleng, membelakangi Mark.
       “Mau sampai kapan kau diam seperti orang bisu?” Mark menyandarkan tubuhnya ke tembok. “Kalau kau tidak marah karena itu, lalu kenapa kau marah padaku? Jangan anggap aku bodoh, Nico”
      Nicky langsung berbalik badan dan menarik kerah baju Mark.
       “What do you want from her?!” jeritnya marah.
       Mark tidak bereaksi apa-apa.
       Wajah Nicky putus asa. Ia marah, tapi entah marah kenapa. Terlihat kekecewaan berlipat-lipat diwajahnya. Matanya merah, pundaknya bergerak naik turun.
       “Aku memang tidak suka melihatmu dengannya. Sangat tidak suka Mark. Kenapa tiba-tiba kau seenaknya menjadikannya pacarmu tanpa bilang apa-apa padaku?! Kenapa kau menusukku dari belakang?! Kenapa kau mengambilnya dariku?! Kau kurang ajar Mark!”
       Mark mendorong Nicky ke tembok.
       “Apa yang kau bilang hah? Aku mengambilnya darimu? Kau seharusnya tahu diri Nicky!! Dia bukan milikmu. Walaupun kau suka padanya harusnya kau ungkapkan padanya! Kau punya Georgina. Kalau kau terus menjalankan hubungan tanpa cinta dengannya itu salahmu! Kenapa kau tidak jujur saja?!” Mark membentak Nicky.
       “Aku tidak mau menyakiti Gina! Kenapa kau tidak mengerti Mark?! Apa kau sama sekali tidak menyadari perasaanku pada Michelle selama ini?! I love her! I love her since I was in high school! Aku bahkan mencintainya sampai rasanya mau mati! Aku tidak pernah bisa bicara sampai rasanya aku gila!! Aku selalu membicarakannya didepan kalian, apa kau tidak menyadarinya?!”      
       Mark menatap Nicky dalam-dalam.
       “Nicky, KAU EGOIS!!” ujarnya.
       Nicky terdiam.
       Ia memegangi kepalanya, mengacak-acak rambutnya.
       Mark berdiri didepannya tanpa berkata-kata. Mark menyadari sesuatu, Nicky menangis. Itu sebabnya ia berhenti membentak. Mark memegang bahu Nicky.
       “Nico, aku tidak mau persahabatan kita hancur...” ucap Mark pelan.
       Nicky menatap Mark dengan wajah merah. Nicky menghela nafas, mengangguk.
       “It’s my fault...” Nicky menunduk dalam-dalam. “Mark, do you love her?”
       “I do...” jawab Mark.
       “Kalau begitu jaga dia...” Nicky menatap Mark dengan tatapan memohon.
       “Aku kasihan padamu. Hidupmu tersesat Nico. Sudah pasti aku akan menjaganya. Tapi kenapa kau tidak bisa jujur? Kau pikir Georgina akan senang hidup bersama orang yang tidak mencintainya? Hidup itu pilihan. Kalau kau mempertahankan Georgina, kau harus siap kehilangan Michelle.” Kata Mark.
       “Give me time...” gumam Nicky.
       Mark tertawa kecil.
       “Give you time? For what? To tell Michelle about your love? It’s too late Nico. She’s mine now...” Mark menggeleng.
       “Someday I’ll tell her” Kata Nicky.
       “Then what about Georgina?” tanya Mark.
       “It’s impossible for me to leave her” Nicky memalingkan wajahnya.
       “I’ll never let you tell Michelle” kata Mark. “I’ll never let you tell her before you leave Georgina. You have to choose. Do you really love playing with her heart?”
       “SHUT UP, MARK!” Nicky terlihat stress berat. “Leave me alone”
       Mark tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik badan dan meninggalkan Nicky diluar studio. Nicky mengacak-acak rambutnya. Ia tahu semuanya tidak ada gunanya. Ia tahu membentak Mark tidak akan ada artinya. Karena seminggu lagi adalah hari pertunangannya dengan Georgina. Dan hari itu adalah hari dimana semuanya akan berakhir.

 ***

       Akhirnya hari itu datang juga. Hari yang selama ini kutakutkan. Tapi aku meyakinkan diriku untuk tidak takut. Karena sudah takdirku menghadapi ini. Aku melewati hari itu tanpa menangis. Mark menemaniku, tidak ada yang perlu ditangisi lagi. Sudah seminggu lebih aku tidak bertemu dengan Nicky sejak hari pertunangannya. Dan tiba-tiba ia muncul ketika aku dan Mark hampir berciuman didepan sebuah kedai kopi. Ia dan Brian muncul dengan wajah menyebalkan yang kukenal.
       Jadi disinilah aku, memandangi jari manis Nicky yang sudah dilingkari sebuah cincin sambil tersenyum. Aku meyakinkan hatiku bahwa aku bahagia jika ia bahagia. Kami duduk didalam sebuah restoran jepang dengan wajah Shane dan Kian yang langsung menyambut kami. Aku tersenyum senang melihat mereka berdua.
        “Lads, I miss you...” aku memeluk mereka berdua. “Aku nggak nyangka kita akan ketemu hari ini”
       “Seingatku tadi aku dan Nicky nggak dipeluk...” sindir Brian.
       Aku mendelik.
       “Mana mungkin aku memeluk kalian disaat kalian nyebelin banget begitu sih?!” ujarku.
       “Ya maaf deh sudah bikin kau dan Mark nggak jadi ci...”
       “Waaaaaaaaaaaa!! Diam Brian!!” wajahku merah padam. “Diam kau diam!!”
       Shane dan Kian bertatapan.
      “Pokoknya aku kangen kalian!” aku tersenyum. “Mark heboh soal Mariah Carey. Kalian hebat banget!”
      Mark tersenyum lebar sekali. Ia senang sampai mau mati saking senangnya karena Mariah Carey ingin featuring dengan Westlife di album kedua.
       “She’s my inspiration and I’ll sing with her!! Slap me!! I’m dreaming!!” jerit Mark.
       “I slapped you three times Marco” tanggap Brian.
       Kami tertawa. Mark kelihatan sangat lucu kalau sedang bersemangat. Kian menampar Mark, disusul suara jeritan Mark dan suara tawa kami membahana didalam restoran. Tapi saat kulihat Nicky, ia tidak tertawa. Ia hanya tersenyum pahit. Aku bingung melihatnya.
       “Nicky? Do you wanna slap Mark with that keeper hand?” tanyaku, berusaha melawak.
       “I guess it’s enough babe” Mark memegangi pipinya.
       Nicky diam saja, sepertinya lawakanku gagal untuk yang kesekian kalinya.
       “Dia berantem sama Georgina” kata Shane santai, meminum ochanya.
       “Shane, jangan sok tahu” tanggap Nicky. “Aku dan Gina selalu akur”
       Sesuatu kembali menusuk hatiku. Tapi aku tetap memasang poker faceku. Rupanya setelah itu Nicky baikan, ia ikut tertawa-tawa bersama the lads. Bahkan ia melucu seperti biasa. Kami makan sambil membuat keributan seperti biasanya. Ketika kami keluar dari restoran, ada beberapa fans Westlife yang histeris dan minta foto. Bahkan ada satu fan yang memeluk Mark erat sekali sambil menangis. Mereka menanggapi para fans dengan sangat baik. Aku salut pada mereka.
       Kami berpisah, tapi Mark masih bersamaku.
       “Kau ingat kan janjimu?” tanyaku pada Mark.
       “Apa aku pernah lupa janjiku?” Mark balik bertanya.
       “Nggak pernah sih. Yuk Mark...dari sini kita harus naik mobil sekitar lima belas menit untuk sampai disana” aku menarik tangan Mark.
       Aku dan Mark naik ke mobil. Mark tersenyum ketika melihatku mengambil bingkisan besar dari jok belakang. Aku membelinya sebelum pergi ke kedai kopi bersama Mark. Kami sampai ke sebuah apartemen besar dan aku langsung mencari nomor pintu yang kutuju, lalu memencet bel disamping pintu. Aku menyuruh Mark bersembunyi dibelakang pintu. Saat pintu terbuka, aku tersenyum lebar sekali.
       “Michelle!!!” Jerit seorang gadis yang sangat cantik, tetap cantik seperti dulu.
       “Darren I miss you!!!” aku langsung memeluknya erat sekali. Ia balik memelukku.
       “Michelle kau nggak bilang akan datang hari ini! saat aku memberitahu alamat apartemenku kau bilang kau sedang sibuk kan?!” ujar Darren.
       “Surprise...” cengirku. Mencubit pipi Darren. “Is Edward here?”
       “No” Darren menggeleng. “Come in!”
       Aku tersenyum usil.
       “I’m not alone here” kataku. “I bring him with me”
       Aku menarik Mark kesampingku.
       “Eh...hai...” Mark menggaruk kepalanya.
       Darren langsung pucat pasi, matanya terbelalak, mulutnya ternganga. Bahkan kulihat ia mulai gemetaran.
       “I’m Mark Feehily, how do you do?” Mark mengulurkan tangannya.
       “MICHELLE!!!” jerit Darren. “Kau nggak bilang akan membawa Mark sekarang!! Aku belum siap tahu!! Aku belum dandan! Oh...Tuhan...I’m Darren Williams”
       Darren menyambut tangan Mark dengan gugup. Mark tertawa mendengar kata-kata Darren. Kami bertiga masuk kedalam, lalu tiba-tiba Darren mencubit pipiku kencang-       kencang.
       “Kenapa kau bisa pacaran sama orang seganteng dia sih?!hah?! aku nggak rela! Kenapa kau bisa pacaran sama orang yang telapak tangannya semulus dan sehangat itu?! Kenapa kau bisa pacaran sama orang yang matanya dan senyumnya seindah dia hah nenek sialan?!!kenapa harus personil Westlife yang kusuka sih hah?!”
       “Darren stop!!” jeritku. “Aku punya bingkisan nih untukmu!”
       “Kau mencoba menyogokku dengan bingkisan hah? Maaf nggak mempan! Setidaknya kau cerita dulu dong sebelum kau pacaran dengannya. Aku langsung jatuh cinta tahu sama Mark sejak melihatnya di TV. Bahkan Nicky kalah tahu! Edward bahkan cemburu saat aku memajang posternya dikamarku! Dan kau seenaknya menggandengnya ya hah?! Seenaknya memacarinya haaah? Kau pikir kau siapa?! ”
       Mark bengong.
       “Darreeeeen!” aku melepaskan diriku. “Baru ketemu sudah ngajak ribut!”
       Darren tertawa.
       “Hukuman!” serunya.
       “Sepertinya kau nggak tahu malu teriak-teriak didepan Mark. Nggak masalah kan kalau aku membawanya kesini secara tiba-tiba?” aku mengusap-usap pipiku.
       Darren memelototiku. Aku langsung diam. Ia lalu mengobrol dengan Mark, memamerkan koleksi Westlife yang ia kumpulkan, lalu memperlihatkan design-design baju di butiknya,  bahkan ia berjanji akan mendesign baju untuk Mark gratis. Setelah itu, ia menceritakan aib-aibku semasa sekolah. Mark tertawa-tawa mendengarnya. Aku menempeleng Darren kencang-kencang.
       Sebelum kami pulang, Darren membisikkan sesuatu ditelingaku.
       “Aku sudah baca novelmu. Dan aku tahu siapa yang kau ceritakan didalam novel itu...” bisiknya. “Kuharap ini novel pertama dan terakhir yang menceritakan tentang orang itu. Cari bahan baru. Aku tahu kau belum move on...”
       Darren memang sahabatku.

 ***

       Keesokan harinya, kupikir adalah hari yang luar biasa. Aku datang ke acara penandatanganan novel-novelku. Dan disana aku bertemu para remaja yang kurasa punya pengalaman patah hati. Bahkan saat menerima tanda tanganku, ada beberapa cewek yang bercerita kalau nasibnya tidak jauh dengan cerita yang kutulis. Didunia ini tidak terhitung para gadis yang patah hati. Karena itu, aku harus kuat.
       Aku masuk kedalam apartemenku yang kutempati baru-baru ini. kulepas mantelku dan aku langsung menuju meja kerjaku lalu duduk disana. Aku menatap sebuah novel berjudul “The Lighthouse” dengan tulisan “best seller” dikanan atas covernya. Dibawah cover tercetak nama “Michelle Myron”. Aku membuka-buka novel itu, teringat betapa berapi-apinya aku saat menulis novel itu.
       Kunyalakan laptopku. Aku diminta menulis novel lagi. tapi otakku kosong. Aku sudah kehilangan mercusuarku. Dan itu sebabnya hati dan otakku terlalu kosong untuk menulis love story lagi. apa yang harus kutulis? Apa aku harus menulis tentang Mark? Aku sangat sayang pada Mark. Tapi kisah kami terlalu simple untuk dijadikan novel.
       Aku menyerah. Otakku benar-benar tidak mau diajak kerja sama. Tapi aku benar-benar ingin menulis. Akhirnya aku memutuskan untuk membuat surat. Surat untuk Nicky. Tapi tentu saja surat yang tidak akan pernah kukirim sampai kapanpun.
       “Good evening my Lighthouse, Nicholas Bernard James Adam Byrne...” aku mulai mengetik, “As always, I’m thinking of you again. Now, I hate myself. I hate myself because I can’t tell you how much I love you. I hate myself because I can’t get you out from my head even now I have a sweetest boy, Mark...he’s the kindest boy in the world. But stupid, he can’t replace you. Remember the first time we met? Maybe you forgot. Or you’ll forget it soon. But I’ll never forget that day. A little silly bicycle accident. I love your eyes from the first time i met you. That beautiful blue eyes...”
       Aku tersenyum.
       “I’ve decided to call you my Lighthouse. Because you saved me even without trying. Even you’re with someone else but you’re still the most precious thing in my life. Yes, I’m the stupidest person in the world. I love your smile. So I love to see you smile. Even you give that smile to another girl but I’m glad enough to know that you’re happy with her now”
       Aku menarik nafas dalam-dalam.
       “No, I won’t cry. I realize it’s all my fault to fall in love with you that far. It’s not your mistake. So that...I’m trying to forgive my own mistake. The worst mistake ever. I was wrong, that day when I saw the blue eyes of the lighthouse and suddenly this love knocked my heart. I’m sorry for that...”
       Aku menekan tombol enter.
       “See?I know how stupid I am. Now i want to hear your voice so bad. Your beautiful husky voice. I wish you call me now. Even I know it won’t be happen...”
       Handphoneku berbunyi.
       Aku agak kaget. Buru-buru aku meraih tasku dan mengeluarkan handphoneku.
       Tuhan...mau sampai kapan Kau mempermainkan hatiku?
       Telepon dari Nicky. Tepat sesudah aku menulis harapanku pada surat bodoh itu. Kenapa takdirku begitu menyebalkan?
       Aku mengangkat telepon.
       “Hello?”
       “Oops, wrong number” Kata Nicky. “Tadinya aku mau menelepon Gina”
       Aku mengerutkan dahiku kesal.
       “Kau ini bodoh atau apa sih? Huruf G dan M kan jauh!” ujarku.
       “Be, berisik ah! Aku kan menamai kontakmu “Girlfriend of Mark” ! wajar kan salah pencet?!” balas Nicky.
       Girlfriend of Mark? Sungguh nama kontak yang benar-benar bodoh.
       “Cepat ganti nama itu, Byrne” aku mendesah. “Atau kau akan terus-terusan salah pencet!”
       “Yah nggak apa-apa kan? Sekarang temani aku ngobrol” kata Nicky cuek.
       “Lebih baik kau telepon nomor yang benar. Kau nggak seharusnya meneleponku kan?” Aku kesal.
       “Aku sudah terlanjur memencet nomormu. Sekarang kita ngobrol saja kenapa sih?!” ujarnya.
       Aku memukul dahiku keras-keras.
       “Mau ngobrol apa?” tanyaku pasrah.
       Nicky batuk-batuk sebentar.
       “Ng, tentang novelmu? Oh iya aku belum baca. Aku sibuk sih” Katanya.
       “Aku nggak minta kau membacanya. Orang bodoh sepertimu nggak boleh baca best sellerku” kataku.
       “Oh ya? Kalau gitu kau nggak boleh mendengarkan album Westlife yang bertahan di chart nomor satu ya?” balas Nicky, batuk-batuk lagi.
       “Beda dong! Aku berhak mendengar suara pacarku” tanggapku.
       Nicky batuk-batuk lagi.
       “Hey, kau kenapa?” tanyaku. “daritadi batuk-batuk terus. Suaramu juga serak”
       “Hm? Aku sedikit demam” Jawab Nicky. “Baru tadi pagi aku merasa kepalaku berat banget. Suhu tubuhku juga naik”
       Gawat, aku khawatir.
       “Ta, tapi Georgina akan datang kesana kan?” tanyaku.
       “Kurasa nggak juga, dia ikut pesta dengan ayahnya. Pesta para menteri. Dan sepertinya nggak akan pulang sebelum tengah malam” Nicky berbicara dengan suara yang makin serak.
       “Aku akan kesana” kataku.
       “Hah?”
       “Tuli amat sih! Kubilang kan aku akan kesana!” ujarku dengan wajah merah padam.
       “Nggak usah teriak-teriak kan bisa!” balasnya kesal. “Kalau kau sibuk lebih baik nggak usah”
       “Ng, nggak apa-apa. Aku khawatir” aku mematikan laptopku.
       “Bisa diulang?” Nicky berkata pelan.
       “Aku khawatir! So, soalnya kan Westlife akan membuat album baru. Kalau kau sakit gimana? Merepotkan saja sih!” ujarku cepat-cepat. “Pokoknya tunggu disana! Aku kesana sekarang. Bye!”
       Aku memutuskan telepon dan langsung meraih mantelku lagi. baru saja aku ingin memanggil taksi, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti didepanku. Kaca mobilnya terbuka.
       “Babe!” wajah cerah Mark langsung terlihat. “Why are you here?”
       “Mark?!” Kataku kaget. “Gosh you surprised me!”
       “I’m starving” katanya dengan wajah memelas. “Let’s have dinner with me now”
       “But...” aku ragu. “I wanna go to Nicky’s apartment. He’s sick”
       Mark menatapku beberapa lama.
       “But I’m starving” katanya.
       “But he’s sick” kataku. “And I guess he’s starving too”
       Mark diam lagi.
       “Tapi...” katanya. “Barusan aku dengar Georgina bakal kesana”
       “Georgina sedang menghadiri pesta bersama ayahnya, Mark” Aku menggeleng.
       “Oh ya? Kurasa dia pulang cepat. Tadi aku dapat SMS darinya. Katanya dia pulang duluan dijemput supirnya. Memangnya nggak gawat kalau kalian datang barengan?” Mark mengangkat alis.
       “Ma, masa sih?” Aku agak kecewa.
       “Makanya ayo makan! Lapar nih!” Mark memegang perutnya. “Lagipula kita nggak akan bisa dinner bareng lagi mulai minggu depan. Westlife akan mulai sibuk lagi”
       “Aaaah iya Fatso!” Aku tersenyum, masuk kedalam mobilnya. “Makan di restoran jepang waktu itu saja ya?”
       “Apa saja boleh, sudah nggak tahan!” ia langsung menginjak gas dan mobil melaju tenang dijalan raya. Ia memandang keluar jendela.
       Maaf Nicky...batinnya. kurasa aku nggak bisa menyerahkan dia padamu...

***

Rabu, 27 Juni 2012

The Blue Eyes of the Lighthouse (part 5)


       Depresi
       Satu-satunya kata yang cocok denganku. Aku menatap monitor komputerku. Sebenarnya apa yang membuat tiga penerbit tidak menerima naskah novelku? Tiga penerbit. Apa tulisanku sejelek itu? Tiga-tiganya pun berkata naskahku belum matang untuk dijadikan novel. Apa sih maksud mereka? Aku merasa gagal dalam usaha pencapaian cita-citaku. Aku teringat Nicky yang gagal jadi pemain sepak bola. Aku mengerti perasaannya sekarang. aku menghela nafas panjang, lalu menyalakan televisi untuk menghilangkan pening di kepalaku.
       Lagi-lagi Westlife.
       Saat aku menyalakan televisiku, aku langsung melihat liputan tentang boyband baru bernama Westlife dan kesuksesan album pertamanya. Ya, Nicky salah satu anggotanya. Ia lolos audisi seleksi bersama satu orang dari Dublin, Brian McFadden. Kulihat Nicky, wajahnya bahagia sekali disana. Tentu saja, Mimpinya yang lain sudah terwujud.
       Seluruh dunia sudah mengenal mereka sekarang. perlu diakui aku juga suka lagu-lagu mereka. Aku suka melihat wajah-wajah personilnya, aku bisa disebut salah satu fans mereka. Dan sampai sekarangpun, aku tidak berhenti mencintai Nicky. Aku justru makin gila. Melihatnya bernyanyi layaknya seorang idola justru membuatku makin jatuh cinta. Kapan aku akan bisa melupakannya? Entahlah...aku menghela nafas sambil meraih ponselku yang daritadi berbunyi. Jantungku berdentum kencang. Telepon dari Nicky.
       “Hello?” aku berkata takut-takut.
       “Hi, Michelle...lama tidak bertemu denganmu...” katanya, masih dengan suara yang kusukai. “How are you?”
       Aku menahan tangis. Aku sangat merindukannya, tapi tidak mungkin kukatakan. Aku sulit bernafas saat aku menjawab “I’m fine”
       “Michelle, aku ingin berterimakasih padamu.” Katanya. “Kalau bukan karena kau, mungkin aku nggak akan begini sekarang. kalau kau tidak menyuruhku untuk beralih pada dunia menyanyi, mungkin aku bukan siapa-siapa sekarang. aku beruntung mengenalmu. Thank you so much...”
       Aku mati-matian menahan tangis. Aku tidak bisa menjawab apa-apa.
       “Michelle, nanti malam kau mau dinner dengan Westlife?” tanya Nicky.
       Aku melotot.
       “Sorry?” aku tidak percaya.
       “Makan malam di Artane restaurant. Kau tahu tempatnya?aku hanya bisa melakukan ini untuk berterimakasih. Kau bisa ketemu Shane Filan, Mark Feehily, Kian Egan dan Brian McFadden yang dipuja cewek-cewek.” Nicky tertawa. “Wah, kau berdosa pada gadis-gadis di seluruh dunia kalau kau menolak”
       Aku mematung.
       “Pokoknya kami tunggu kau disana jam tujuh!sudah ya, ada fans yang ingin minta foto. Kalau kau nggak tahu tempatnya, sms aku secepatnya. Bye!” Nicky menutup telepon.
       Yang benar saja...
       Aku langsung kalang kabut. Aku langsung mandi, menggosok badanku sebersih mungkin, menyikat gigiku berkali-kali, memakai baju terbaikku, memakai make up sebagus mungkin, memilih sepatu dengan susah payah, memberi rambutku conditioner, menyisirnya serapi mungkin, memilih aksesoris yang akan kupakai, dan menatap cermin berkali-kali. Mimpi apa aku semalam...
       Aku memakai parfum  berkali-kali, lalu melirik jam tangan. Jam enam lewat tiga puluh. Rupanya aku kelamaan dandan. Aku langsung panik. Aku meraih tasku dan cepat-cepat berlari keluar rumah, lalu mencari taksi. Aku duduk ditaksi dengan jantung yang sudah tidak jelas lagi detaknya. Seperti ingin berhenti berdetak. Walaupun Nicky mengenalku, aku nggak berpikir sampai kesini. Aku nggak berpikir akan makan malam bersama Westlife. Makan malam bersama west..........
       Aku merosot di jok mobil. Aku ingin teriak.
       Lagipula, aku bisa melepas kerinduanku pada Nicky. Aku bahagia bisa bertemu lagi dengannya. Aku tidak henti-hentinya tersenyum. Aku bahagia hingga ingin menangis! Ketika melihat restoran yang kutuju, tubuhku makin kaku. Aku keluar dari taksi dan mengatur nafasku. Sebaik mungkin.
       Aku masuk kedalam restoran. Mencari-cari Nicky dengan bolamataku. Aku dikagetkan dengan tepukan dipundakku. Aku menoleh dan melihat Nicky tersenyum dibelakangku. Tuhan...wajah Nicky masih seperti yang kukenal, matanya...kedua mata birunya menatapku seperti dulu. Kedua mata yang kupuja. Senyumnya semanis dulu, hanya saja ada aura berbeda yang melekat padanya. Itu pasti karena ia sudah jadi orang terkenal sekarang. baunya harum sekali. Rambut blonde spikenya terlihat keren. Ia sangat tampan. Bahkan lebih tampan dari terakhir kali aku bertemu dengannya.
       Aku merasa bermimpi saat ia memelukku. Iya, ia memelukku erat-erat. Aku terkejut. Tapi aku merasa hangat dipelukannya, hangat dan harum. Aku nyaris menangis. Kukuasai diriku. Aku tidak boleh berharap. Tidak boleh...tidak boleh...aku sulit bernafas. Bahkan setelah ia melepas pelukannya.
       “Lama nggak ketemu ya?” cengirnya. “teman-temanku ada disebelah sana...”
       “Hahaha...iya” tanggapku, jantungku berdetak tidak karuan. Aku menatap kearah sebuah meja. Disana terlihat empat cowok yang...God...mereka tampan sekali. Mark Feehily, ia pemuda yang sangat cool, berambut dark brown dan berbolamata biru jernih, bibirnya kemerahan, senyumnya manis sekali. Dan aku tidak percaya aku sedang menjabat tangannya. Ia tersenyum ramah padaku.
       Setelah itu aku melihat Shane Filan, penyanyi leader didalam Westlife. Bolamatanya hazel seperti bolamataku. Rambutnya dark brown seperti Mark. Ia terlihat sangat cool dengan baju tanpa lengan. Kian Egan, rambut blondenya ditata sangat menarik, aku suka poninya, bolamatanya biru dan ia punya bekas luka dipipinya. Terakhir, aku melihat Brian McFadden. Wajahnya jenaka, dagunya belah, rambutnya blonde dan bolamatanya juga biru. Aku suka senyumnya, ia terlihat lucu.
       “Gosh...shes’s beautiful, Nick” kata Kian, aku tidak percaya mendengar kata-katanya.
       “Ha! Dasar playboy! Mau berapa cewek sih yang kau pacari?!” Shane menonjok lengan Kian. “Nice to meet you Michelle. Santai saja ya. Kalau kau teman Nicky, berarti kau juga teman kami. Kita bisa bertemu kapanpun kalau sempat”
       Aku perlu mengorek telingaku.
       Aku ingin tertawa melihat Brian membuat berbagai macam ekspresi aneh. Lalu aku menatap Mark, Ia lebih banyak diam. Parasnya cool, tapi aku bisa melihat wajahnya bersemu merah saat kami bertatapan.
       “So, what’s your job, Michelle?” tanya Brian sambil memainkan garpu ditangannya.
       “Failed writer...” jawabku. Aku tidak bermaksud melawak, tapi Brian malah tertawa mendengar jawabanku.
       “What do you mean with that?” tanyanya.
       “Sudah tiga penerbit menolak naskah novelku. Aku bekerja sambilan di toko buku. Mengumpulkan uang sedikit-sedikit...” kataku jujur.
       Sunyi.
       “Jadi, kalian mau pesan apa?” Nicky mengalihkan pembicaraan. Menatap buku menu. “Aku sedang ingin makan spagetti, kalian apa?”
       “Aku salad...” ucapku. Yang lain menyebutkan pesanannya ketika waiter menghampiri meja kami. Mereka benar-benar lucu, memesan makanan saja ributnya setengah mati. Aku tertawa-tawa saja melihat kelakuan mereka. Kami makan sambil ngobrol. Membicarakan apa saja. Tentang Westlife yang akan berangkat world tour dua minggu lagi, tentang cerita-cerita lucu selama mereka bernyanyi di panggung, dan Nicky menanyakan Darren, aku sesak kembali saat mengingat Darren. Ia pindah ke London untuk menjalankan usaha butiknya. Aku ingat sekeras apa aku menangis saat kami berpisah.
       “Katanya pulang world tour, Nicky akan bertunangan dengan Georgina.” Shane tersenyum. “Bagaimana sudah fix kan?”
       Aku berdebar.
       “Ah...itu...” Wajah Nicky memerah. “Yah, doakan saja”
       Seketika hatiku seakan dibanting keras-keras. Aku berusaha untuk tidak gemetar. Hatiku sakit sekali. Kenapa? Bukankah aku sudah tahu hari itu akan datang? Seketika nafsu makanku hilang. Aku menahan airmataku dan lama-lama aku tidak tahan. Aku meletakkan alat makanku dan menatap mereka berlima.
       “Aku nggak enak badan. Aku pulang dulu ya, lads?” Kataku sambil menunduk. Mengambil tasku.
       “Are you okay?” Nicky mengangkat alis.
       Aku mengangguk.
       “Kuantar kau pulang ya?” tiba-tiba Mark bangkit dari duduknya. Aku agak kaget. Diantar pulang oleh Mark Feehily? Aku pasti mimpi. Aku cepat-cepat menggeleng. Tidak mau merepotkannya. “Kumohon biarkan aku mengantarmu pulang...” Kata Mark lagi. Ia menatapku serius. Belum sempat aku membalas ucapannya, ia cepat-cepat menarik tanganku keluar restoran. Aku kaget setengah mati.
       “Mark...Mark!apa yang kau pikirkan? Aku bisa pulang sendiri!” ujarku, merasa tidak enak. Aku melepas genggaman Mark.
       “Mana bisa aku membiarkan gadis sepertimu pulang sendirian dengan keadaan kurang sehat?” Mark menatapku serius. “Aku benar-benar nggak keberatan.”
       Aku terdiam. Lalu menggeleng. Aku tidak mau menerima kebaikan Mark ditengah keegoisanku dan kecemburuanku yang luar biasa. Aku memegang pundak Mark, tersenyum padanya. “Nggak usah...” kataku pelan. Aku langsung memanggil taksi dan masuk kedalamnya. Mark terus menatap taksi yang kunaiki hingga hilang dari pandangannya. Aku merasa bersalah pada Mark tapi aku benar-benar tidak kuat lagi. Aku menangis sepuasnya didalam taksi.
       Menangisi orang itu lagi. Lagi dan lagi hingga aku bosan. Nicky, sebentar lagi ia bertunangan dengan Georgina. Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku nggak menangis dan berbuat bodoh. Seharusnya sekarang aku masih duduk di restoran bersama Westlife dan memberi Nicky selamat. Tapi hatiku menolak. Aku tidak mau menangis didepan mereka. Bodoh sekali kalau aku sampai menangis sedangkan mereka menatapku keheranan. Jadi aku pergi begitu saja.
       Sudah bertahun-tahun aku menyimpan cinta yang percuma ini. Aku terus memikirkan Nicky. Memikirkan semua yang ada pada dirinya. Tapi aku bingung, diantara ribuan bayangan tentang Nicky, terselip satu wajah ditengahnya.
       Mark.

***

       “Really?!” Aku berteriak tidak percaya.
       “Yeah Ms. Myron...kami suka naskah novel anda. Kami harap kami bisa menerbitkannya secepatnya”
       Aku seakan bermimpi. Itu pembicaraan yang sangat kuingat tadi pagi di telepon. Akhirnya aku berhasil menarik perhatian penerbit keempat setelah nyaris patah semangat. Aku sudah menyusun jadwal pertemuanku dengan penerbit itu. Aku turun kebawah, ke ruang keluarga dan memekuk Mum yang sedang menonton televisi erat-erat. Ia terbingung-bingung melihat wajahku yang sudah berminggu-minggu suram seketika menjadi sangat cerah.
       “What’s going on?” tanyanya heran.
       “Mum, jangan heran ya kalau tiba-tiba saat kau nonton TV dan tiba-tiba anakmu ini muncul sebagai orang terkenal...” kataku agak melunjak. “Aku berhasil Mum...novelku akan diterbitkan!”
       Mum tersenyum senang mendengarnya.
       “I know that you can dear...” kata Mum. “You’ll be the best writer in the future”
       Saat ini kami menjadi sepasang ibu dan anak paling berlebihan diseluruh dunia. Tapi kemudian Mum menatapku serius dengan alis berkerut.
       “Tapi Mum belum membaca naskahmu sama sekali...” katanya. “Selama ini kau hanya ribut soal novel. Tapi ceritanya saja kau tidak memberitahunya sama sekali”
       Sunyi.
       “Aku menulis love story...” wajahku bersemu merah.
       Wajah Mum berubah menjadi wajah mencibir.
       “Oh...itu sebabnya kau berubah jadi gadis rapi?” Ia mengangkat alis.
       Aku diam saja. Mum tidak tahu hatiku sudah terbanting-banting oleh laki-laki yang kutulis dalam novelku dengan nama samaran. Mum mematikan TV dan berjalan menuju dapur. Pasti ia mau membuat kue. Aku tahu kebiasaannya kalau sedang senang. Aku menyusulnya ke dapur.
       “Kau tahu Westlife kan?” tanya Mum tiba-tiba.
       Aku nyaris memecahkan mangkuk mendengar pertanyaan Mum.     
       “Yeah, of course. I met them some weeks ago” kataku jujur. Tapi Mum justru tertawa-tawa sinting menanggapinya. sepertinya ia tidak percaya. Biarkan sajalah. Siapa yang minta dia percaya? Mum nggak tahu apa-apa. Bahkan ia tidak tahu salah satu personil Westlife adalah tetangganya sendiri.
       “I just love their songs...” kata mum, mengambil beberapa butir telur. “Personilnya yang namanya Mark Feehily itu ganteng”
       Aku menahan tawaku. Mum memang selalu melirik cowok ganteng. Siapapun. Penyanyi, aktor, bahkan orang lewat sekalipun. Mum pasti akan pingsan kalau tahu Mark pernah minta mengantarku pulang. Tiba-tiba aku merindukan Mark. Aku terlalu sakit hati untuk memikirkan Nicky lagi. Westlife sedang dalam world tour sekarang. Mereka sedang di Asia tenggara.
       Sebenarnya beberapa hari ini aku selalu texting dengan Mark. Ia mengirim SMS lebih dulu. Pasti ia mendapat nomorku dari Nicky. Aku selalu tidur larut malam demi membalas SMS nya. Karena perbedaan waktu. Dan sepertinya Mark tidak menyadari di Irlandia sudah larut malam saat ia dengan cepat mengirimiku SMS demi SMS. Sosoknya yang pemalu, cool, calm, ternyata hanya cover depannya. Ia sangat asyik untuk dijadikan teman ngobrol. Ia suka melucu. Dan aku merasa nyaman dengan itu.
       Aku meninggalkan Mum sebentar di dapur untuk mengecek handphoneku. Dan benar saja. Ada tiga SMS dari Mark. Aku tertawa kecil. SMS pertama berbunyi: “Michelle, setelah Westlife pulang dari world tour seminggu lagi aku ingin bertemu denganmu. Ada yang ingin kubicarakan” yang kedua: “Hmmm...apa aku salah bicara?”  yang ketiga: “I’m sorry. Are you angry?”
       Yaampun Mark! Cowok satu ini benar-benar bikin ketawa! Memangnya siapa yang bakal marah karena diajak ketemuan?! Apalagi dia selebriti papan atas. Aku membalas SMS nya sambil tertawa-tawa.
       “Mark, you’re silly! Of course. We’ll meet a week later :)”

***

       “Mark!!”
       “Sssssssshhhh!!!jangan keras-keras!” Mark menempelkan jari telunjuk dibibirnya. “Dari tadi orang-orang melihat kearahku. Jangan sebut namaku!”
       “Ups, sorry” Aku menutup mulutku.
       Seperti janjiku, aku dan Mark bertemu sehari setelah Westlife pulang world tour. Kami bertemu disebuah cafe. Mark memakai jaket yang ada tudung kepalanya. Aku duduk diseberangnya.
       “How’re the lads?” tanyaku.
       “They’re fine” Mark tersenyum, menatapku. “Hey,I miss you...”
       Aku tertawa.
       “How come? I met you just once!”
       Mark ikut tertawa. Sepertinya ia salah tingkah gara-gara kata-katanya.
       “Aku nggak akan seaneh ini dengan cewek lain. I don’t know...you’re different” Katanya. “Bagaimana novelmu?”
       “A, akan diterbitkan secepatnya” jawabku.
       Kemudian kesunyian menyelubungi kami. Jantungku berdebar-debar. Suasananya benar-benar aneh dan kaku. Aku tidak tahu harus membuka obrolan apa. Ia bilang ia mau membicarakan sesuatu. Tapi ia justru diam saja sekarang. Aku gemas. Tapi terlalu takut untuk menegurnya.
       Tiba-tiba Mark duduk tegak, lalu menatapku serius.
       “Begini...” katanya dengan wajah merah padam. Ia menarik nafas dalam-dalam. “Maybe it sounds stupid but I think my heart was stolen by you. I don’t know how come but I think I love you, Michelle. Will you be my girlfriend?”
       Aku bengong.
       Hening.
       “Hah?” Aku tidak bisa berkata apa-apa selain itu. Tubuhku kaku. Aku merasa sedang bermimpi. Wajahku pasti kelihatan seperti orang idiot. Aku tidak berkedip, tubuhku tidak bergeser sedikitpun. Wajah Mark merah sekali. Ia terlihat benar-benar malu. Ia menunduk. Tidak berani menatapku.
       “Why?hahahaha...” tawanya kaku. “Sorry. Sudah kuduga aku bakalan ditolak. Kau suka pada Nicky kan? Aku bisa melihatnya dari matamu.”
       Nicky lagi. kenapa selalu Nicky? Apakah aku gampang sekali ditebak?
       Tapi,daripada itu...Mark ini apa-apaan sih?! Barusan dia ngomong apa?!
       “You’re joking Mark...” aku menggeleng-geleng. “We met some weeks ago and it was the first time we met. You texted me, I texted back...and...we meet again today”
       “Yeah...simple, huh?” Mark tertawa. “But I’m not joking. I’m 100 % serious”
       “But...” aku tidak tahu harus bilang apa.
       “Nggak usah tegang begitu. Aku tahu kok kau nggak suka padaku...” Mark tertawa kecil. “Kau mau minum apa? kutraktir”
       Tunggu...
       MANA MUNGKIN MARK JATUH CINTA PADA CEWEK SEHANCUR AKU?!
       Aku ingin teriak. Dunia ini terlalu aneh.
       “I will...”
       Mark terpaku.
       “So, sorry?” ia menatapku, memastikan kata-kata itu berasal dari mulutku.
       “I will...” ulangku.

***